Penulis: Pemuja Kepalsuan
Di sebuah kerajaan nan damai bernama Kerajaan Lampetong, pernah berkuasa seorang raja perkasa bernama Sri Baginda Raja Purna. Setelah dua windu memerintah, masa baktinya berakhir, dan tahta pun diwariskan kepada Raja Muda Terpilih, sosok segar penuh harapan rakyat.
Namun rupanya, Sri Baginda Raja Purna tidak benar-benar “purna”. Meski sudah tak mengenakan mahkota, ia masih punya kebiasaan unik: menyusun ulang para abdi istana, lewat jalur yang tak tertulis—tapi terasa nyata.
Setiap malam, Raja Purna duduk di ruang tamunya yang wangi dupa, bermain catur jabatan. Di atas papan, ia geser-geser nama-nama prajurit dan penasihat:
> “Si Punggawa ini terlalu dekat dengan Raja Muda? Geser ke perbatasan timur. Yang satu ini pandai menjilat? Naikkan jadi juru minum teh di ruang utama!”
Burung gagak istana berbisik ke sana kemari. Di ruang para pejabat, terdengar detak jantung lebih cepat dari jam dinding.
> “Kenapa aku tiba-tiba dipindah ke Lumbung Arsip Kerajaan?” tanya seorang abdi tua.
> “Itu kehendak angin… atau mungkin angin dari rumah Raja Purna,” jawab temannya pelan, sambil pura-pura sibuk menyusun berkas.
Raja Muda pun tahu akan ini. Tapi seperti banyak raja muda lainnya, ia memilih diam dulu, mungkin karena masih menghitung siapa kawan, siapa bayangan.
Sementara itu, rakyat di pasar tertawa geli. Mereka menyebut fenomena ini sebagai “Raja Tanpa Takhta Tapi Banyak Tata”—karena meskipun tak lagi bertahta, ia masih suka menata siapa duduk di mana.
Dan begitulah negeri Jabatanaya. Di mana raja baru memerintah, tapi raja lama masih pegang daftar nama.
Karena di negeri ini, yang susah diturunkan bukan cuma mahkota, tapi juga rasa memiliki yang terlalu dalam—bahkan setelah masa kekuasaan lewat jalan pulang.