Penulis: Pemuja Kepalsuan
Alkisah di sebuah negeri bernama Kerajaan Lampetong, rakyat tengah bersiap memilih pemimpin baru. Hiruk pikuk kampanye memenuhi pasar, pelabuhan, hingga teras masjid. Semua paslon berlomba memikat hati rakyat, tapi satu sosok menarik perhatian: Wak Dapil, calon wakil raja yang dikenal kritis, vokal, dan sering tampil di TikTok dengan kata-kata pedas.
Dalam setiap orasinya, Wak Dapil selalu menyerang satu hal:
“Rakyat Lampetong jangan tertipu! Jangan pilih pemimpin yang tinggalnya di Samapura! Mereka cuma datang pas pemilu, habis itu hilang ke kota!”
Rakyat pun bersorak, “Betul! Hidup Wak Dapil! Putra daerah sejati!”
Lalu tibalah hari pemilihan. Wak Dapil terpilih jadi wakil raja. Ia pun dilantik, duduk gagah di kursi megah, lengkap dengan selempang kebesaran dan janji perubahan.
Namun belum genap satu musim panen, kabar menggemparkan datang:
Wak Dapil terlihat membangun kampung halamannya di Pulau Sulabesi. Jalan beton, lampu taman, posyandu tiga lantai, dan lapangan voli berlampu sorot berdiri megah. Semua katanya pakai dana pribadi.
Rakyat Lampetong pun bengong.
Seorang petani berseloroh,
“Lho, katanya dulu jangan pilih yang tinggal di Samapura… Eh sekarang malah sibuk bangun desa di seberang lautan?”
Seorang nenek menimpali,
“Jalan ke kebun di Lampetong masih becek, Wak-nya malah bangun trotoar di kampung sebelah.”
Wak Dapil pun muncul di layar kaca, dengan senyum bangga, berkata,
“Ini bentuk cinta saya pada tanah kelahiran… Dana pribadi, kok.”
Tapi rakyat Lampetong tahu:
Cinta pada tanah kelahiran tak seharusnya melupakan tanah yang memilihmu.
Dan begitulah kisah Wakil yang dulu berteriak soal “orang luar”, namun akhirnya justru berlayar pulang ke ambisinya sendiri.