Penulis: Sabrinna Az Zahra, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
“Di Kompas, satu kata bisa diperdebatkan tiga jam.”
Kalimat ini terdengar berlebihan di telinga awam. Namun justru dari sinilah diskusi tentang bahasa dimulai. Dalam kegiatan bertajuk Kurasi Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Sosial yang digelar oleh PRNU Pasir Putih, Sawangan, Depok, pada Sabtu, 5 Juli 2025, kalimat tersebut jadi pintu masuk membahas betapa pentingnya pilihan kata, terutama dalam konteks publik dan digital.
Kegiatan yang diadakan di Kaldi.ID ini menghadirkan tiga pembicara dari berbagai latar belakang: jurnalis, dosen, hingga pegiat literasi. Tapi ada satu hal yang menyatukan mereka kepedulian terhadap bahasa yang kita pakai setiap hari baik di koran, status WhatsApp, atau video pendek di TikTok.
Bahasa Adalah Kuasa
Pak Nur Adji, yang membuka sesi pemaparan, menceritakan pengalamannya di dua media besar. Majalah Sinar dan Harian Kompas. “Di Kompas, satu kata saja bisa dibahas selama tiga jam,” katanya. Bukan tanpa alasan. Dalam media profesional, bahasa adalah reputasi, etika, bahkan ideologi.
Ia mencontohkan soal penulisan kata “Muslim” yang dulu sempat ditulis dengan huruf kecil, berbeda dengan agama lain seperti “Kristen” atau “Hindu” yang selalu ditulis dengan huruf kapital. Masyarakat pun memprotes. Kompas akhirnya mengubah kebijakannya, demi menghormati pembacanya yang mayoritas Muslim. “Ini bukan sekadar ejaan, tapi pengakuan,” ujarnya.
Diskusi makin hidup ketika ia menyinggung kata “sholat” yang sering ditulis ‘salah’ menurut KBBI harusnya “salat”. Namun Kompas tetap memilih “sholat” demi mendekati kedekatan emosional pembaca. Bahkan pilihan kata antara “wanita” dan “perempuan” pun tak luput dari sorotan. “Perempuan” dianggap lebih bermakna luhur, berasal dari kata “empu”, dibanding “wanita” yang berasal dari frasa “wani ditata” (berani diatur). Kata-kata punya sejarah, punya bias, dan punya muatan nilai.
Media Sosial: Cermin Diri, Ruang Publik Baru
Memasuki sesi kedua, Pak Djony Herfan menggeser perhatian ke ranah yang lebih kita kenal sehari-hari media sosial. Ia menegaskan bahwa media sosial telah menjadi wadah utama generasi muda, termasuk santri dan aktivis, untuk menyampaikan gagasan, berdakwah, atau sekadar berbagi cerita. Namun, kebebasan di media sosial tetap harus dibingkai dengan tanggung jawab.
“Konten di medsos idealnya mewakili kepentingan publik, bukan sekadar tren pribadi. Harus selaras dengan nilai-nilai dasar seperti UUD 1945 dan persatuan,” tegasnya. Di sinilah kuasa kata berperan lagi. Satu unggahan bisa menyatukan, tapi bisa juga memecah.
Pak Azhmy Fawzi My juga menambahkan bahwa konten yang menyentuh rasa manusia, konten yang bernyawa, akan lebih mudah menjangkau publik. “Kalau kontenmu punya rasa, orang akan terhubung. Tapi juga harus ada gunanya. Jangan hanya lucu atau viral, tapi kosong,” katanya.
Ia mengingatkan pentingnya konsistensi “Kalau kita ingin punya followers yang loyal, ya beri mereka konten yang konsisten dengan minat mereka. Jangan hanya mengejar likes.”
Pertanyaan, Kekhawatiran, dan Tawa
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bernama Ranti bertanya dengan jujur, “Gimana caranya supaya akun kita punya banyak followers?”
Pertanyaan yang terlihat sederhana ini justru memantik diskusi paling manusiawi. Karena di era sekarang, siapa pun pernah tergoda untuk viral, ingin diakui. Tapi jawaban para narasumber membumi: jangan kejar jumlah, kejar kebermanfaatan.
Pak Adji justru mengangkat pentingnya etika. “Saya nggak punya banyak followers, karena memang jarang posting. Tapi kalau saya lihat konten, saya senang kalau kontennya sopan, bahasanya bagus, dan gambarnya menghargai penonton,” katanya. Bahasa mencerminkan diri, termasuk saat diunggah ke media sosial.
Pertanyaan lain dari peserta membahas legalitas penggunaan template Canva dan Capcut. “Selama itu fitur gratis, tidak masalah. Tapi biasakan menulis sumber, walaupun bukan kewajiban. Itu bagian dari membangun kebiasaan menghargai karya orang,” jelas Pak Azhmy.
Pak Djony juga memberi catatan penting soal etika berkomunikasi di WhatsApp “Biasakan 5W + 1H. Jangan asal kirim pesan tanpa tujuan jelas. Jangan juga pakai nama panggilan di grup formal. Hormati lawan bicaramu.”
Main Kata: Kuis yang Menggelitik
Menjelang akhir sesi, suasana mencair lewat kuis bahasa yang dipandu Pak Adji. Peserta diminta memilih kata yang benar dari dua pilihan, misalnya: “karir” atau “karier”, “nekat” atau “nekad”, “apotek” atau “apotik”.
Meski terlihat sederhana, ternyata banyak jebakan. Peserta banyak yang salah pada kata “wudu” dan “ekstrem”. Bahkan, soal “petambak” dan “penambak” jadi perdebatan kecil yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat ini membuktikan bahwa memperbaiki bahasa bisa dilakukan tanpa tekanan.
Kuis bukan soal benar salah saja, tapi tentang keberanian untuk mempertanyakan kata-kata yang selama ini kita anggap biasa.
Penutup: Bahasa yang Menyatukan, Bukan Menyinggung
Dari awal hingga akhir, kegiatan ini meninggalkan satu pesan kuat: Bahasa adalah jembatan. Bukan sekadar alat tukar, tapi alat rasa. Bahasa bisa membangun, bisa juga menjatuhkan. Maka, kita semua sebagai pengguna media social baik yang punya ribuan followers maupun yang hanya jadi penonton perlu lebih sadar saat mengetikkan satu kata.
Bila satu kata saja bisa diperdebatkan tiga jam di ruang redaksi, maka tak ada alasan bagi kita untuk menyepelekan bahasa dalam satu detik unggahan.
Mari lebih berhati-hati. Bukan karena takut dikritik, tapi karena kita menghargai yang membaca.