Kutai Kartanegara — Nama Muso bin Salim akan selalu melekat dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya di tanah Kutai, Kalimantan Timur. Putra asli Muara Kaman ini tercatat sebagai salah satu tokoh penting yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Borneo. Dengan kegigihannya, Muso mendapat julukan “Pahlawan Gerilya se-Kalimantan.”
Rekam Jejak Perjuangan
Dalam masa revolusi fisik pasca-proklamasi 1945, Kalimantan menjadi salah satu front perlawanan yang tidak kalah sengit dibanding Jawa dan Sumatra. Muso bin Salim berdiri di garis terdepan melawan kolonial Belanda yang ingin kembali menguasai Kalimantan Timur.
Ia memimpin pasukan gerilya di sekitar Muara Kaman dan wilayah sekitarnya, melakukan taktik perang rakyat yang membuat Belanda kesulitan menguasai daerah pedalaman Mahakam.
Perjuangannya tidak hanya di medan tempur, tetapi juga membangun semangat masyarakat Kutai agar tetap setia kepada Republik yang baru lahir.
Muso tercatat sebagai figur yang disegani kawan maupun lawan, karena strategi dan keberaniannya di lapangan.
Penghargaan dari Negara
Atas jasa-jasanya, Muso bin Salim mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah Republik Indonesia.
Pada 2 Desember 1947, ia menerima tanda penghargaan dari Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono IX.
Pada 5 Juni 1960, Presiden Soekarno menganugerahkan gelar Pahlawan disertai Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ir. Djuanda.
Penghargaan ini menegaskan betapa besar kontribusi Muso dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Kalimantan.
Akhir Hayat dan Penghormatan
Muso bin Salim wafat pada 18 Februari 1975. Ia dimakamkan di tepi Sungai Mahakam, Muara Kaman. Sejak saat itu, makamnya menjadi titik penghormatan dan ziarah bagi masyarakat serta pejabat negara.
Setiap 10 November, bertepatan dengan Hari Pahlawan, pemerintah daerah, TNI-Polri, DPRD, hingga masyarakat sekitar rutin menggelar upacara, tabur bunga, serta kegiatan kebudayaan di Monumen Muso bin Salim. Kegiatan ini tidak hanya mengenang perjuangan beliau, tetapi juga menumbuhkan kembali semangat nasionalisme di tengah generasi muda.
Warisan Semangat Perjuangan
Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, Muso bin Salim bukan hanya pahlawan perang, tetapi juga simbol keberanian, kerelaan berkorban, dan cinta tanah air. Semangatnya menjadi inspirasi untuk membangun daerah tanpa melupakan akar sejarah.
Pemerintah daerah dan DPRD Kukar kini tengah berupaya melakukan pemugaran makam dan monumen Muso bin Salim, termasuk rencana pembangunan galeri sejarah yang akan menampilkan artefak perjuangan beliau. Langkah ini diharapkan menjadi pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari darah, keringat, dan pengorbanan putra bangsa di berbagai penjuru, termasuk dari bumi Kutai.
Tulisan ini diolah oleh tim gerbangnusantaranews.id, dari berbagai data dan sumber.