Jakarta — Siang itu, suasana di sebuah aula sederhana di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, terasa berbeda. Deretan meja disulap menjadi ruang kerja kreatif. Tumpukan kertas bekas, ampas tebu, hingga plastik kresek yang biasanya berakhir di tempat sampah, kini menjadi bahan utama dalam sebuah pelatihan bertajuk “Pembuatan Notebook dari Kertas Bekas, Ampas Tebu, dan Sampah Plastik”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknologi Rekayasa Cetak Grafis 3D (TRCG 3D) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), bekerja sama dengan komunitas pengolahan limbah kreatif Stuffo GudRnD. Tujuan utamanya sederhana namun berdampak besar: mengajak masyarakat melihat limbah dari sudut pandang baru—bukan sebagai masalah, tapi sebagai peluang.
Berbagi Ilmu, Menebar Inspirasi
Acara dibuka oleh Ketua Prodi TRCG 3D, Yoga Putra Pratama, S.T., M.T., yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara kampus dan masyarakat dalam menciptakan perubahan positif.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa ilmu cetak grafis tidak berhenti di ruang kuliah. Ia bisa hadir di tengah masyarakat, menjawab isu lingkungan, dan memberi manfaat langsung,” ujar Yoga dalam sambutannya (29/7/2025).
Pelatihan dipandu oleh tim pengajar TRCG 3D bersama para pegiat kreatif dari Stuffo GudRnD. Emmidia, dosen di Prodi TRCG 3D sekaligus ketua tim pengabdian masyarakat, membuka sesi dengan memperkenalkan cara mengolah ampas tebu dan kertas bekas menjadi kertas fancy yang memiliki tampilan unik dan bertekstur.
Sesi dilanjutkan oleh Rachma Nanda, dosen TRCG 3D lainnya, yang memperagakan teknik penjilidan buku Japanese Binding, metode klasik dari Jepang yang kini kembali populer karena keindahannya. Mas Sofyan dan Mas Untung dari Stuffo kemudian memandu peserta mengubah plastik kresek menjadi sampul buku, serta menjelaskan teknik saddle stitching atau jahit pelana yang sederhana namun kuat dan estetik.
Belajar Sambil Berkreasi
Tidak hanya mendengarkan, para peserta juga langsung turun tangan mencoba. Dipandu oleh mahasiswa TRCG 3D, mereka memotong, menjahit, dan menyusun halaman demi halaman hingga akhirnya berhasil menciptakan notebook daur ulang buatan sendiri. Tak sedikit yang menunjukkan hasil karya mereka dengan bangga—kombinasi kertas daur ulang dengan cover dari plastik bekas menciptakan tampilan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga artistik.
“Saya baru tahu kalau plastik kresek bisa dijadikan sampul buku. Keren banget,” ujar salah satu peserta, sambil menunjukkan hasil karyanya.
Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
Kolaborasi antara TRCG 3D PNJ dan Stuffo GudRnD menjadi contoh konkret bagaimana dunia pendidikan dan komunitas bisa bersinergi membangun kesadaran lingkungan. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keberlanjutan, kreativitas, dan kepedulian sosial.
Di akhir acara, ruangan yang sebelumnya penuh limbah, kini dipenuhi dengan tumpukan notebook buatan tangan—unik, fungsional, dan tentu saja ramah lingkungan. Senyum peserta dan semangat berbagi ilmu menjadi penutup hangat dari kegiatan yang tak hanya meninggalkan karya, tapi juga kesan.
Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, Prodi TRCG 3D PNJ secara simbolis menyerahkan modul pembuatan notebook ramah lingkungan kepada komunitas Stuffo GudRnD. Modul ini merupakan hasil penulisan kolaboratif antara dosen, mahasiswa, dan tim dari Stuffo, berisi panduan praktis mengolah limbah ampas tebu, kertas bekas, dan plastik menjadi produk cetak yang fungsional dan bernilai seni.
Dengan adanya modul tersebut, diharapkan praktik pengolahan limbah ini dapat direplikasi dan dikembangkan lebih luas, sehingga semakin banyak komunitas yang terinspirasi untuk berkarya dari sampah dan menciptakan solusi kreatif untuk lingkungan.