Penulis: Martha Ayu Winarno, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Berpikir positif sering dianggap sebagai jawaban atas segala bentuk kesulitan hidup. Di media sosial, kita terbiasa membaca kutipan seperti “jangan terlalu memikirkan”, “semua akan baik-baik saja”, atau “selalu bersyukur”. Kalimat-kalimat ini memang menenangkan, namun tidak jarang justru menimbulkan tekanan batin baru bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Apakah berpikir positif memang selalu membawa kebaikan? Atau justru, ketika digunakan secara berlebihan, bisa merugikan?
Fenomena ini menarik untuk ditelaah lebih dalam. Terlalu sering kita memaksakan diri untuk merasa bahagia, bahkan ketika sedang sedih, kecewa, atau marah. Dalam situasi seperti ini, berpikir positif berubah dari sebuah sikap mental yang sehat menjadi pengungsi emosional yang justru menjauhkan kita dari penyelesaian masalah yang nyata.
Makna Berpikir Positif yang Sebenarnya
Berpikir positif bukan berarti selalu tersenyum atau menyangkal rasa kecewa. Menurut artikel Kompas Skola, berpikir positif adalah proses mental yang mendorong seseorang untuk melihat sisi baik dari situasi sulit, namun tetap realistis. Sikap ini tidak bertentangan dengan kenyataan, justru menjadi cara menghadapi kenyataan dengan pandangan yang lebih terbuka.
Kompas juga menekankan bahwa manfaat berpikir positif mencakup peningkatan rasa percaya diri, kemampuan mengelola stres, hingga peningkatan hubungan sosial. Tapi manfaat itu hanya bisa didapat jika pikiran positif dibangun secara sadar, bukan karena tekanan sosial.
Bahaya Toxic Positivity
Artikel Pijar Psikologi mengingatkan bahwa berpikir positif bisa menjadi berbahaya jika menjelma menjadi toxic positivity. Ini adalah kondisi ketika seseorang memaksa dirinya untuk selalu berpikir baik, bahkan dengan menekan atau mengabaikan emosi negatif yang sebenarnya perlu dihadapi. Misalnya, saat seseorang berkata “Aku baik-baik saja” padahal sedang tertekan, hanya karena takut dicap lemah atau negatif.
Pijar Psikologi menegaskan, menjadi manusia seutuhnya berarti mampu mengenali dan mengelola seluruh spektrum emosi, baik positif maupun negatif. Emosi seperti sedih, marah, dan kecewa adalah sinyal psikologis yang valid, bukan kelemahan.
Peran Berpikir Positif dalam Kesehatan Mental
Menurut Kementerian Kesehatan RI, berpikir positif merupakan salah satu dari 10 cara menjaga kesehatan mental. Namun Kemkes juga menekankan bahwa berpikir positif harus dibarengi dengan kemampuan mengenali masalah dan mencari solusi, bukan menolaknya.
Langkah-langkah yang disarankan antara lain: membangun dukungan sosial yang sehat, menata pikiran melalui aktivitas seperti journaling, serta menghindari tekanan media sosial yang sering memaksakan kesan “semua orang bahagia.”
Positif untuk Tumbuh, Bukan Menekan Diri
Dalam artikel Kompas Lifestyle, berpikir positif disebut sebagai alat pengembangan diri yang kuat, dan tidak salah artikan. Optimisme yang realistis membantu kita melihat kemungkinan baru, membangun ketahanan mental, dan menyelesaikan masalah dengan lebih tenang. Namun, ketika berpikir positif digunakan untuk menyangkal rasa sedih atau kegagalan, justru menjadi penghambat pertumbuhan emosi.
Kompas menekankan pentingnya keseimbangan antara berpikir positif dan penerimaan diri. Kita tidak harus selalu merasa senang untuk bisa berkembang. Terkadang, justru dari kegagalan dan rasa sakit, kita belajar menjadi lebih kuat.
Cara Sehat Membangun Pikiran Positif
Berikut langkah-langkah membangun pikiran positif yang sehat:
- Terima emosi sebagai bagian negatif dari kehidupan.
- Gunakan afirmasi yang realistis, bukan paksaan.
- Luangkan waktu untuk refleksi, bukan sekedar bersyukur.
- Berani jujur kepada orang terdekat saat sedang tidak baik-baik saja.
- Bangun lingkungan sosial yang memberi ruang untuk jujur dan tumbuh.
Berpikir positif adalah sikap mental yang penting, tetapi tidak boleh dipaksakan. Ia harus tumbuh dari kesadaran, bukan dari tuntutan sosial. Ia membantu kita bangkit, bukan melarikan diri. Dan yang paling penting, ia memberi ruang bagi semua emosi manusia untuk diterima, diolah, dan dijadikan pelajaran.
Karena pada akhirnya, menjadi kuat bukan berarti selalu bahagia, namun mampu tetap berjalan sambil menerima perasaan yang datang.