Anak Harus Menurut, Tapi Sudahkah Orang Tua Mau Mendengar?

Wed, 4 Jun 2025 07:24:05 Dilihat 117 kali Author gerbang nusantara
IMG-20250604-WA0027

Penulis: Nabilah Septiani, Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

 

“Rumah adalah tempat ternyaman,” begitu kata banyak orang. Tapi apa artinya rumah jika komunikasi di dalamnya terasa kaku? Jika anak merasa lebih dimengerti oleh orang lain ketimbang keluarganya sendiri?

 

Di banyak keluarga saat ini, hubungan antara anak dan orang tua tidak selalu sehangat yang diharapkan. Kesibukan kerja, tekanan akademis, dan pengaruh teknologi membuat komunikasi semakin renggang. Banyak orang tua menanamkan prinsip bahwa “anak harus menurut”, tetapi lupa bahwa membentuk kedisiplinan tidak harus mengorbankan komunikasi dua arah.

 

Saya percaya, hubungan positif dalam keluarga bukan sekadar soal siapa yang memberi nafkah, tetapi siapa yang benar-benar hadir secara emosional. Hubungan ini harus menjadi ruang aman, bukan tempat penuh tekanan. Karena itulah, mendengar bisa menjadi bentuk perhatian yang paling sederhana, namun paling bermakna.

 

Pentingnya Hubungan Positif Anak dan Orang Tua

Mengutip Harvard Center on the Developing Child, hubungan yang responsif sejak dini memainkan peran penting dalam perkembangan otak dan kesejahteraan emosional anak. Ketika orang tua mampu merespons kebutuhan emosional anak, mereka membantu anak tumbuh lebih sehat secara psikologis dan sosial.

 

Dalam wawancara bersama Kompas TV, psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menyampaikan bahwa kunci hubungan sehat antara orang tua dan anak adalah kemampuan untuk mendengar tanpa menghakimi. “Kadang anak tidak butuh solusi, mereka hanya ingin dimengerti,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Verywell Family menjelaskan bahwa pujian yang tulus dan penguatan positif bisa meningkatkan motivasi serta kepercayaan diri anak dalam menghadapi tantangan sehari-hari.

 

Tantangan dalam Membangun Hubungan Positif

Di tengah gaya hidup yang semakin cepat dan sibuk, orang tua sering kali merasa bahwa ketaatan anak adalah bentuk keberhasilan pola asuh. Namun, pendekatan yang terlalu menekankan pada ketaatan bisa membuat anak merasa tidak dihargai pendapat dan emosinya. Akibatnya, anak menjadi tertutup atau mencari pelarian emosional di luar rumah.

 

Anak yang tumbuh di era digital memiliki tantangan tersendiri. Mereka lebih kritis, lebih ekspresif, dan lebih terbuka terhadap berbagai informasi. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang terbuka dan setara jauh lebih efektif dibanding hanya menuntut ketaatan.

 

Hubungan positif bukan berarti membiarkan anak berbuat sesuka hati, tetapi menyeimbangkan antara memberi batasan yang jelas dan mendengarkan mereka sebagai individu yang sedang tumbuh.

 

Dimulai dari Langkah Sederhana

Hubungan positif tidak dibangun dalam semalam. Namun, dengan langkah kecil dan konsisten, ikatan dalam keluarga bisa diperkuat. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

 

Dengarkan tanpa menyela

Saat anak bercerita, biarkan mereka menyelesaikan kalimatnya. Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas.

 

Berikan pujian yang spesifik dan tulus

Misalnya, “Ibu senang kamu berani jujur,” atau “Ayah bangga kamu mencoba meski belum berhasil.”

 

Luangkan waktu tanpa gangguan

Makan malam bersama tanpa ponsel atau menonton film berdua bisa jadi momen yang mempererat.

 

Tanya hal sederhana

Pertanyaan seperti, “Gimana harimu?” bisa membuka percakapan dan memberi sinyal bahwa kamu peduli.

 

Lebih dari Sekadar Rumah

Meminta anak untuk menurut bukanlah kesalahan. Tapi, ketika perintah berdiri sendiri tanpa ruang untuk berdialog, hubungan keluarga justru menjadi kaku. Anak yang merasa didengar akan lebih mudah menerima arahan, karena ia tahu bahwa pendapat dan perasaannya dihargai.

 

Saya yakin, semua orang tua menginginkan anak yang patuh, sopan, dan bertanggung jawab. Tapi semua itu tidak bisa dibentuk hanya lewat perintah. Harus dibutuhkan kedekatan emosional, kepercayaan, dan komunikasi yang terbuka.

 

Mari kita ubah sedikit perspektif. Sebelum meminta anak menurut, tanyakan dulu: sudahkah kita benar-benar mendengar mereka?

Baja Juga

News Feed

Mahasiswa Didorong Hadapi Tantangan Era Society 5.0, Zulhansyah Tekankan Peran Organisasi

Thu, 28 Aug 2025 14:06

Tenggarong — Dalam rangkaian kegiatan PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBIS) Unikarta, digelar seminar bertajuk “Peran Organisasi Mahasiswa dalam Menghadapi…

Akhmed Reza Fachlevi Tanggapi Isu Pencalonan Ketua KNPI Kaltim: Harap Ada Rekonsiliasi Pemuda

Wed, 27 Aug 2025 11:01

Kalimantan Timur– Isu mengenai pencalonan Ketua KNPI Kalimantan Timur mulai mencuat ke publik. Nama Anggota DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi,…

Presiden Mahasiswa Unikarta Ajak Mahasiswa Baru Lebih Kritis dan Aktif Berorganisasi

Wed, 27 Aug 2025 04:10

Kutai Kartanegara —Dalam momentum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025, Presiden Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara, Ibnu Ridho,…

Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin RPU Rp24,9 Miliar di Kutim Masuk Tahap Penyidikan

Wed, 27 Aug 2025 00:04

Kalimantan Timur -Dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU) senilai Rp24,9 miliar di Kabupaten Kutai Timur…

Rektor Unikarta Tekankan Pentingnya Karakter dan Organisasi pada PKKMB 2025

Tue, 26 Aug 2025 12:05

Kutai Kartanegara – Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) resmi menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2025–2026, Selasa (26/8/2025)….

Royalti Musik: Momentum Pembenahan, Bukan Sekadar Regulasi

Sun, 24 Aug 2025 14:54

Gerbang Nusantara memandang bahwa langkah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang mengusulkan agar izin konser hanya diberikan setelah…

Ratusan Massa Kaltim Siap Gelar Aksi Besar, Tuntut Cabut Izin PT BDAM dan Copot Pejabat Polres Kukar

Sun, 24 Aug 2025 07:17

Kutai Kartanegara — Persoalan sengketa lahan yang bermula sejak 1980 kembali memanas. Awal perkara ini disebut dimulai saat hadirnya PT…

Kaltim Sediakan Rp25 Miliar untuk Kompensasi Kesehatan, Darlis: Pasien Tidak Boleh Ditolak

Sun, 24 Aug 2025 03:36

Samarinda — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran Rp25 miliar dalam APBD Perubahan 2025. Dana ini disiapkan sebagai kompensasi kesehatan…

Dana Transfer Pusat Dipangkas, APBD Kaltim Terancam Defisit Besar

Sun, 24 Aug 2025 03:20

Samarinda -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kini menghadapi ancaman defisit besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun berjalan. Hal…

Pemprov Kaltim Pastikan UKT Mahasiswa Baru Ditanggung dalam Program Gratispol

Fri, 22 Aug 2025 22:57

Kalimantan Timur -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menegaskan komitmen dalam melaksanakan program pendidikan gratis atau Gratispol bagi mahasiswa baru di…

Berita Terbaru

Teknologi

Pendidikan

Visitor