Penulis: Daffa Akshana, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Dalam beberapa waktu terakhir, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda berbagai sektor industri di Indonesia. Dari perusahaan teknologi besar seperti GoTo dan Shopee hingga ritel dan transportasi, banyak anak muda yang baru memulai karir harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan pekerjaan atau peluang kerja yang semakin menipis. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: masihkah anak muda bisa berpikir positif di tengah situasi seperti ini?
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan angka kemiskinan terbuka yang mencapai 7,45 juta orang pada awal tahun 2025. Beberapa perusahaan teknologi dan startup di Indonesia juga mengalami restrukturisasi besar-besaran, yang berdampak langsung pada ribuan karyawan, terutama di sektor digital dan teknologi. Tren ini juga tercermin dari beberapa laporan lembaga riset ekonomi yang mencatat perlambatan pertumbuhan sektor ritel dan transportasi, mengindikasikan tekanan yang cukup berat pada pasar tenaga kerja anak muda.
Dampak dari situasi ini tidak hanya terasa secara ekonomi, tetapi juga psikologis. Banyak anak muda yang merasa cemas, kehilangan arah, dan mengalami tekanan mental akibat masa depan. Perasaan gagal pun sering muncul, padahal kenyataannya mereka belum sempat benar-benar memulai perjalanan kariernya. Situasi ini memerlukan pendekatan yang bijak dalam menyikapi kenyataan, bukan sekadar berharap semua akan berjalan mulus.
Berpikir positif dalam konteks ini bukan berarti menutup mata terhadap kesulitan yang ada, melainkan mengakui kenyataan dengan lapang dada dan kemudian mencari langkah yang bisa diambil. Fokus utama adalah pada hal-hal yang bisa dikontrol, seperti peningkatan keterampilan dan kesiapan menghadapi perubahan. Pakar psikologi positif, Martin Seligman, mengatakan bahwa sikap “realistis optimis” membantu seseorang untuk bertahan dan menemukan peluang di tengah kesulitan.
Adaptasi menjadi kunci utama bagi anak muda di era padatnya pekerjaan ini. Banyak yang mulai beralih ke pekerjaan freelance, memanfaatkan platform digital, atau membuka usaha kecil-kecilan. Profesi baru juga bermunculan, seperti manajer media sosial, pembuat konten, dan asisten virtual, yang menawarkan peluang kerja alternatif di tengah krisis. Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui program Digital Talent Scholarship juga aktif memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan digital anak muda agar siap menghadapi perubahan zaman.
Peran komunitas dan kolaborasi juga sangat penting dalam membangun semangat dan daya tahan mental. Banyak komunitas belajar, coworking space, dan program pelatihan digital bermunculan sebagai ruang bagi anak muda untuk saling mendukung dan berbagi informasi. Dengan berada dalam lingkungan yang suportif, mereka dapat merasa lebih kuat menghadapi tantangan dan menemukan solusi bersama.
Kita harus realistis bahwa tantangan yang dihadapi saat ini memang berat dan penuh. Namun, menyerah bukanlah pilihan terbaik. Berpikir positif dalam konteks ini berarti terus berusaha, belajar hal baru, dan menjaga harapan tetap hidup. Ini adalah sikap kedewasaan yang dibutuhkan untuk melewati masa sulit.
Berpikir positif bukan sekedar berharap akan hal yang mustahil terjadi, melainkan percaya bahwa hidup tidak berhenti ketika satu pintu tertutup. Dengan sikap seperti ini, anak muda dapat menemukan jalan untuk bangkit dan berkembang, meski dunia kerja sedang penuh gejolak.