Penulis: Savitri Shalssabila, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Cinta adalah bahasa universal yang tak perlu diterjemahkan. Ia datang tanpa izin, seringkali memperhatikan tanpa batas-batas yang manusia buat, termasuk batas agama. Namun, ketika cinta berlabuh di antara dua insan yang keyakinannya berbeda, tidak jarang muncul pertanyaan dan keraguan: apakah cinta ini salah? Masyarakat sering kali memberi label negatif, menganggap cinta beda agama sebagai “haram”, “tabu”, atau bahkan sebuah dosa besar. Padahal, apakah cinta itu bisa salah?
Saya percaya, cinta beda agama bukan soal benar atau salah, melainkan soal bagaimana kita mampu membuka ruang dialog, pengertian, dan penghormatan. Seperti dijelaskan Erich Fromm dalam The Art of Loving (1956), cinta adalah seni yang memerlukan pengetahuan dan usaha sadar. Bukan sekedar perasaan yang meluap-luap, tapi sebuah komitmen untuk saling memahami dan menerima.
Ketika dua orang yang berbeda agama memutuskan untuk bersama, mereka tidak hanya menyatukan hati, tetapi juga dua dunia yang berbeda. Tantangan terbesar bukan pada perbedaan keyakinan itu sendiri, melainkan bagaimana mereka mampu menjembatani perbedaan tersebut dengan rasa hormat dan komunikasi terbuka. Diane Z. Chase dalam Interfaith Relationships (2018) menekankan bahwa dialog jujur antara pasangan dan keluarganya adalah kunci keberhasilan hubungan ini. Konflik dapat diminimalisir jika keluarga dan pasangan duduk bersama membicarakan nilai-nilai dan batasan yang saling dihormati.
Namun, masyarakat luas seringkali terlalu cepat menghakimi, menganggap hubungan lain agama sebagai ancaman terhadap norma dan tradisi. Padahal, hubungan semacam ini justru bisa menjadi cermin keberagaman yang indah dan pelajaran penting tentang toleransi. Dalam The Psychology of Religion (1992), Ralph W. Hood menguraikan bahwa penerimaan keluarga dan lingkungan sosial sangat menentukan stabilitas emosional pasangan beda agama. Dengan dukungan tersebut, pasangan dapat lebih mudah menavigasi perbedaan dan membangun rumah tangga yang harmonis.
Perlu diingat, perbedaan agama tidak selalu berarti harus ada perpecahan. Cinta lintas agama mengajarkan kita untuk melihat esensi manusia, bukan label di atas kepala. Ketika cinta dipandu oleh nilai saling menghormati, batas-batas agama bukan lagi penghalang, melainkan titik awal untuk membangun jembatan kebersamaan.
Bagi sebagian orang, cinta beda agama bisa menjadi tantangan berat yang memaksa mereka untuk memilih antara keyakinan dan hati. Namun, apakah harus selalu seperti itu? Saya percaya bahwa cinta tidak harus mengorbankan identitas dan keyakinan, melainkan menuntut kebijaksanaan untuk menemukan titik temu yang seimbang. Keduanya bisa berdampingan, seperti dua nada berbeda dalam satu harmoni.
Mengutip Fromm kembali, “Cinta adalah tindakan, bukan sekadar perasaan.” Artinya, pasangan beda agama harus aktif membangun pemahaman, bukan hanya berharap perasaan mereka cukup kuat untuk melewati rintangan. Komunikasi yang tulus dan kesediaan untuk belajar dari satu sama lain adalah fondasi utama
Dalam konteks sosial yang semakin plural, penting bagi kita untuk menghapus stigma dan prasangka terhadap cinta beda agama. Tidak ada yang salah dengan hati yang jatuh cinta pada orang yang berbeda agama, selama cinta itu dibarengi dengan kesadaran, penghormatan, dan tanggung jawab.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca untuk membebaskan cinta dari ikatan stereotip. Cinta lintas agama bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebuah tantangan dan peluang untuk belajar tentang kemanusiaan yang sejati. Dalam keragaman, kita menemukan kekuatan, dan dalam perbedaan, kita menemukan keindahan.
Mari bersama-sama membuka hati dan pikiran, bahwa cinta adalah jembatan bukan tembok. Cinta yang mampu menyatukan, bukan memisahkan. Karena pada akhirnya, cinta tidak pernah salah — yang salah adalah ketika kita menutup diri untuk memahami dan menerima