Penulis: Raissa Widiawati, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakara
“Pernahkah Anda merasa tertekan untuk selalu terlihat bahagia, meskipun hati sedang tidak baik-baik saja? Dalam budaya yang sering mengagungkan semangat dan senyuman, berpikir positif menjadi semacam kewajiban. Namun, apakah berpikir positif berarti harus menolak perasaan sedih, marah, atau kecewa?”
Apa Itu Berpikir Positif yang Sehat?
Berpikir positif adalah kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian pada sisi positif dari keadaan diri, orang lain, dan situasi yang dihadapi. Menurut Susetyo (1998), berpikir positif tidak datang dengan sendirinya, melainkan sebuah keterampilan yang harus dipelajari. Dengan berpikir positif, seseorang dapat menghadapi tantangan hidup dengan pandangan optimis serta melihat hal-hal baik pada diri sendiri dan orang lain.
Manfaat Berpikir Positif
Berpikir positif memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, antara lain:
- Mengurangi stres dan mencegah depresi: Dengan mengubah cara berpikir menjadi positif, ini bisa membantu memerangi perasaan stres dan depresi.
- Memperkuat sistem imun tubuh: Pikiran negatif dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan berpikir positif dapat memperkuatnya.
- Memperpanjang harapan hidup: Orang dewasa yang optimis memiliki kemungkinan lebih kecil untuk meninggal lebih awal dibandingkan dengan mereka yang sering berpikiran negatif.
Mengenal Lebih Jauh tentang Toxic Positivity
Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif. Melihat suatu hal dengan positif memang baik, tapi jika dibarengi dengan menghindari emosi negatif, hal ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Seseorang yang terjebak dalam toxic positivity akan terus berusaha menghindari emosi negatif, seperti sedih, marah, atau kecewa, dari suatu hal yang terjadi. Padahal, emosi negatif juga penting untuk dirasakan dan diekspresikan.
Ciri-ciri Toxic Positivity
- Memberikan Motivasi yang Justru Menghakimi
- Tidak Jujur pada Diri Sendiri
- Membuat Seseorang Berjauhan
- Sulit Mengontrol Emosi
- Suka Membandingkan dengan Orang Lain
Berpikir Positif yang Seimbang
Berpikir positif yang sehat bukan berarti menolak emosi negatif, melainkan mengakui dan menerima emosi tersebut sebagai bagian dari pengalaman manusia. Dengan demikian, seseorang dapat menghadapi tantangan hidup dengan lebih realistis dan tangguh.
Beberapa cara untuk menerapkan berpikir positif yang seimbang antara lain:
- Menerima emosi negatif: Akui perasaan sedih, marah, atau kecewa sebagai bagian dari proses penyembuhan.
- Menghindari pemaksaan untuk selalu bahagia: Berikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan berbagai emosi.
- Mencari dukungan sosial: Berbagi perasaan dengan orang terpercaya dapat membantu mengurangi beban emosional.
- Melakukan refleksi diri: Luangkan waktu untuk merenung dan memahami perasaan yang dialami.
Berpikir positif adalah alat yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup, tetapi harus dilakukan dengan cara yang sehat dan realistis. Mengabaikan atau menolak emosi negatif tidak akan membuat masalah hilang, justru dapat memperburuk kondisi mental. Dengan menerima dan memahami perasaan kita, kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan autentik.