Penulis: Abu Nawas
Di sebuah negeri jauh bernama Lamalama, hidup seorang pemimpin tua bernama Tuan Lengket Kursi. Ia pernah memimpin negeri itu selama bertahun-tahun dengan gaya khas: banyak bicara, sedikit berjalan, dan selalu bilang, “Rakyat butuh ketenangan, bukan perubahan.”
Akhirnya, masa jabatannya pun habis. Bel berbunyi, spanduk digulung, dan kalender pun diganti dengan wajah pemimpin baru: Tuan Segar Berani, seorang pemuda yang membawa harapan, gagasan, dan kasur sendiri.
Namun, saat Tuan Segar hendak masuk ke rumah jabatan, ia mendapati sesuatu yang mengejutkan: Tuan Lengket belum pindah!
Ia masih duduk di kursi tamu, menonton burung-burung di taman, dan kadang memesan teh dari dapur rumah jabatan seolah-olah tak ada yang berubah. Lemari bajunya masih penuh, sandal di depan pintu dua pasang, dan bahkan gulingnya masih memeluk ranjang utama.
“Eh, bukannya ini sudah bukan rumah Tuan lagi?” tanya rakyat kecil dari luar pagar.
Tuan Lengket hanya tersenyum sambil mengusap jenggotnya. “Aku hanya numpang kenangan. Lagi pula, rumah ini nyaman, banyak kenangannya. Kasihan rumahnya kalau ditinggal mendadak.”
Tuan Segar Berani mencoba bersikap sopan. Ia memberi waktu, mengirim surat, bahkan membawa buah tangan sebagai tanda hormat. Tapi Tuan Lengket tetap tinggal, bahkan mulai memelihara kucing baru dan menanam pohon mangga di halaman belakang.
“Kan tidak tertulis kapan harus benar-benar pindah,” bisik Tuan Lengket sambil menyeruput kopi pagi.
Akhirnya, rakyat pun membuat papan besar bertuliskan:
“Rumah Jabatan Bukan Rumah Kenangan”
Tapi papan itu hanya membuat Tuan Lengket tertawa kecil dan berkata,
“Wah, cocok juga jadi hiasan taman!”
Dan begitulah, anak-anak. Di Negeri Lamalama, pemimpin boleh berganti, tapi kadang yang lama enggan pergi. Mungkin karena terlalu nyaman, atau karena lupa bahwa jabatan itu disewa, bukan diwariskan.