Penulis: Ade Sukma Nadira, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.
Di setiap keluarga pastinya terdapat hubungan yang unik. Salah satu yang sering menjadi perhatian adalah hubungan antara kakak beradik. Dalam keluarga, kakak tidak hanya berperan sebagai saudara yang memiliki usia lebih tua. Dari sudut pandang adiknya, kakak berperan sebagai seorang panutan. Namun, apakah semua kakak menyadari dan menjalani peran tersebut?
Hubungan kakak beradik tidak sekadar ikatan dalam darah, tidak hanya karena lahir dari satu rahim yang sama dan tidak pula karena rasa persaudaraan saja. Dalam kehidupan sehari-hari yang tinggal pada satu rumah yang sama, kakak diharuskan memberi contoh yang baik untuk adiknya. Bukanlah orang tua yang mengambil peran besar dalam setiap perilaku yang tercipta dari seorang adik, melainkan kakak.
Sadar atau tidak, kakak selalu terlihat hebat di mata adiknya. Sering kali sang adik akan mengikuti hal apa yang dilakukan dan disukai kakaknya. Seorang adik akan menganggap kakaknya sebagai teladan.
Munculnya kata panutan dari seorang kakak adalah saat seorang adik menyadari bahwa kakaknya telah hidup di dunia lebih dulu. Kakaknya telah menghadapi dunia disaat ia sadar kalau dirinya belum tercipta. Kakak telah mempelajari semuanya disaat ia masih belajar berbicara dan berjalan. Kakak telah mngetahui lebih banyak hal ketimbang sang adik. Secara tidak langsung itu menjadi pembelajaran bagi adik.
Melalui tindakan kecil dan perkataannya, kakak mengajarkan nilai-nilai dasar kehidupan. Mulai dari kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab dan empati. Satu perkataan dari kakak akan selalu diingat oleh adiknya.
Terlansir dari family life today, anak-anak yang memiliki kakak yang suportif dan penuh perhatian cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena kakak dapat menjadi orang pertama yang menunjukkan nilai-nilai kebaikan, seperti empati, kerja sama, dan kejujuran, dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan dari seorang kakak akan menciptakan lingkungan yang nyaman untuk adiknya tumbuh dan berekspresi. Begitupun sebaliknya, kakak yang tidak menyadari perannya dalam mendukung sang adik akan menjadikan ia tumbuh dengan rasa tidak percaya diri.
Di kehidupan yang nyata, contoh sederhana yang menjadikan kakak sebagai panutan adalah saat ia memberikan sebuah nasihat yang membangun untuk adiknya. Setelah mengatakan keluh kesah pada sang kakak, banyak adik yang merasa terbantu dengan saran dari kakaknya. Seorang kakak akan menjadi pendengar yang baik dari cerita adiknya, entah tentang perngalaman di sekolah atau persoalan teman. Melalui sikap perhatian itu hubungan kakak beradik ini menjadi kuat secara emosional.
Sering kali seorang kakak juga menjadi inspirasi dalam kelanjutan pendidikan dan menentukan arah minat bakat sang adik. Kebanyakan adik akan meniru bagaimana cara kakaknya belajar, kebiasannya, mengerjakan tugas dan memilih ektrakulikuler yang sama. Ini didukung dari orang tua dalam menentukan sekolah juga, biasanya orang tua akan membuat kakak dan adik belajar di sekolah yang sama. Jika memiliki usia yang tidak terpaut jauh, alasan utama dari tindakan orang tua ini adalah agar kakak bisa menjaga adiknya selama di sekolah.
Hal ini menunjukkan peran kakak selain menjadi teman bermain, tetapi juga menjadi teladan secara tidak langsung untuk semangat belajar bagi adik.
Namun, tidak semua kakak sadar peran besarnya untuk sang adik. Terkadang kakak tidak menyadari kalau perilakunya membawa pengaruh negatif. Ada suatu waktu kakak akan bersikap kurang baik, tidak jujur dan malas belajar. Ketidaksadaran ini akan membawa dampak yang buruk bagi adik yang cenderung suka meniru kebiasaan kakaknya. Akibatnya, sang adik tumbuh dengan meniru hal negatif tersebut tanpa disadari hingga kemudian menganggu perkembangan kepribadiannya sendiri.
Pada saat adik meniru hal negatifnya, kakaklah yang akan menjadi tersangka penyebabnya. Karena terkadang sang adik belum mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mana hal yang harus ia contoh dan yang ia tinggalkan.
Maka dari itu, penting bagi seorang kakak untuk menyadari bahwa dirinya membawa tanggung jawab yang besar. Kakak perlu menjaga perilaku dan perkataannya ketika menyadari sang adik meniru semua yang dilakukannya. Kakak bagai sebuah “cermin” yang diamati sang adik. Dengan menmahai peran tanggung jawabnya kakak dapat menjadi contoh panutan yang baik dalam perkembangan karakter adik.
Pada akhirnya, hubungan kakak beradik yang terjalin dengan harmonis dan suportif menjadikan fondasi bagi keluarga yang kuat dan penuh kasih sayang. Ketika kakak menyadari perannya sebagai panutan, kemudian akan tercipta lingkungan keluarga yang aman, positif dan saling menghormati. Ini membuat keluarga mampu menghadapi tantang kehidupan dan dapat membangun masa depan cerah bersama.