Kejar Prestasi Boleh, Empati Jangan Mati

Thu, 5 Jun 2025 04:40:17 Dilihat 40 kali Author gerbang nusantara
WhatsApp Image 2025-06-05 at 12.37.04

Penulis: Novita Lestari, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

Siapa, sih, yang gak mau berprestasi? Dari pelajar sampai profesional, semua berlomba buat jadi yang terbaik. Anak sekolah ditargetin dapat nilai sempurna, mahasiswa dituntut lulus tepat waktu sambil aktif organisasi, dan orang kerja didorong terus naik jabatan. Dari kecil kita diajarin buat jadi nomor satu, juara kelas, aktif organisasi, punya banyak sertifikat, terus nanti bisa masuk kampus keren atau kerja di perusahaan top.

 

Wajar sih, apalagi di era yang serba kompetitif kayak sekarang. Kita hidup di tengah tuntutan buat terus berkembang, terus naik level. Tapi, pernah gak sih kamu ngerasa karena semua ambisi dan target itu, empati kita malah pelan-pelan memudar?

 

Ambisi tinggi itu keren, tapi jangan sampai bikin kita lupa jadi manusia

Prestasi itu penting, gak bisa dipungkiri. Tapi kadang, keinginan buat jadi yang terbaik bikin kita lupa satu hal penting: jadi manusia yang peduli sama orang lain.

Dalam dunia pendidikan, misalnya. Banyak siswa yang fokus banget sama nilai, sampai-sampai gak peduli kalau temannya sedang menghadapi masalah. Bahkan, ada yang menganggap temannya sebagai “kompetitor” yang harus dikalahkan. Padahal, menurut penelitian yang dilansir dari Journal of Adolescence, tingkat empati yang tinggi pada siswa ternyata bisa menurunkan perilaku bullying dan meningkatkan kualitas hubungan positif antar teman sebaya.

 

Kalau dipikir-pikir, sekolah dan kampus seharusnya jadi tempat buat tumbuh bareng, bukan ajang saling sikut. Ketika kita melihat teman kesusahan dan pura-pura gak tahu, atau bahkan menjatuhkannya demi terlihat lebih unggul, itu justru bikin lingkungan belajar jadi tempat yang nggak sehat. Empati di sini penting banget, karena bikin kita sadar bahwa nilai tinggi gak ada artinya kalau harus mengorbankan solidaritas.

 

Bayangin kalau setiap siswa bisa lebih peka, yakni nanya kabar temannya yang lagi murung, bantuin belajar tanpa takut disaingi, atau cukup hadir buat dengerin. Hal kecil seperti itu bisa menciptakan suasana belajar yang lebih suportif dan nyaman. Tidak hanya bikin kita berkembang secara akademik, tapi juga secara emosional. Dari situlah tumbuh budaya sekolah yang sehat, penuh kolaborasi, dan saling percaya.

 

Empati, soft skill yang gak kalah penting dari hard skill

Coba deh bayangin, kamu kerja di kantor top, gaji tinggi, tapi semua orang dingin dan individualis. Gak ada yang saling mendukung, semua sibuk nyari spotlight sendiri. Enak gak? Capek gak sih hidup kayak gitu?

 

Nah, di sinilah pentingnya empati. Dilansir dari Center for Creative Leadership, pemimpin yang punya empati cenderung lebih sukses karena mereka bisa memahami kebutuhan tim, ngebangun kepercayaan, dan bikin lingkungan kerja jadi lebih sehat. Penelitian itu juga bilang, empati adalah salah satu indikator penting dalam kepemimpinan yang efektif.

Meski kita bukan pemimpin, empati bikin kita lebih peka terhadap emosi orang lain dan ini jadi dasar penting dalam membentuk hubungan positif di kantor. Dengan empati, hubungan kerja jadi gak sekadar profesional, tapi juga personal dan suportif.

 

Artinya, punya empati tuh gak cuma bikin kamu lemah atau gampang dimanfaatin. Justru sebaliknya, empati bikin kamu lebih kuat secara emosional, lebih tahan banting, dan lebih dihargai orang lain.

 

Sukses itu bukan cuma soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang bisa sampai bareng-bareng

Ada satu kutipan yang mungkin udah sering kamu denger: “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.” Kutipan ini rasanya cocok banget jadi pengingat bahwa sukses gak harus diraih sendirian.

 

Empati bikin kita sadar bahwa setiap orang punya jalan dan tantangannya sendiri. Gak semua orang start dari garis yang sama. Jadi, daripada saling sikut, kenapa gak saling dorong? Daripada nutup mata, kenapa gak saling lihat dan bantu?

 

Dilansir dari artikel di Personality and Social Psychology Review, empati punya peran penting dalam membangun hubungan positif yang memperkuat kolaborasi dan kesejahteraan kita secara umum. Dengan empati, proses kerja dan belajar jadi lebih lancar dan menyenangkan.

 

Kamu tetap bisa ambisius tanpa harus jadi dingin

Sekarang kamu mungkin mikir, “Oke, empati penting. Tapi kalau aku terlalu peduli, nanti orang malah ngelunjak atau manfaatin aku.” Itu nggak salah. Tapi ingat, empati bukan berarti kamu harus selalu ngalah atau jadi people pleaser. Empati itu soal memahami, bukan menyetujui semua hal.

 

Kamu tetap bisa punya tujuan besar, ambisi tinggi, dan kerja keras. Tapi jangan sampai semua itu bikin kamu kehilangan sisi manusiawi. Gak apa-apa jadi orang sukses, tapi akan jauh lebih keren kalau kamu sukses dan tetap ramah, tetap peduli, tetap bisa nangkep sinyal kalau ada teman yang lagi gak baik-baik aja.

 

Dan kabar baiknya, empati itu bisa dilatih. Gak harus langsung besar. Mulai dari hal kecil aja, kayak dengerin teman curhat tanpa ngegas, bantuin orang tanpa nunggu diminta, atau sekadar nanya “kamu oke?” dengan tulus. Semakin sering kamu melatih itu, semakin tajam juga kepekaanmu terhadap sekitar. Dan dari situlah benih-benih hubungan positif tumbuh.

 

Yuk, jadi generasi berprestasi yang juga peduli

Jujur aja, dunia sekarang butuh lebih banyak orang yang bukan cuma pintar, tapi juga peka. Bukan cuma ambisius, tapi juga tulus. Generasi kita sering banget dituduh egois dan cuek, tapi kamu dan aku bisa buktiin kalau kita bisa sukses tanpa harus jadi robot yang gak punya perasaan.

 

Kejar prestasi boleh banget, bahkan harus. Tapi dalam perjalanan menuju impian itu, jangan sampai kamu menabrak orang lain, atau malah lupa siapa diri kamu sebenarnya. Jangan sampai saat kamu sampai di puncak, kamu sadar ternyata kamu sendirian, dan gak ada yang benar-benar peduli.

 

Patut disadari, hal yang paling diingat dari kita bukan cuma prestasi yang kita kumpulkan, tapi juga cara kita memperlakukan orang lain di sepanjang perjalanan. Hubungan yang terbangun lewat empati itulah yang akan terus hidup, bahkan setelah prestasi kita gak lagi jadi topik hangat.

Baja Juga

News Feed

Mahasiswa Didorong Hadapi Tantangan Era Society 5.0, Zulhansyah Tekankan Peran Organisasi

Thu, 28 Aug 2025 14:06

Tenggarong — Dalam rangkaian kegiatan PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBIS) Unikarta, digelar seminar bertajuk “Peran Organisasi Mahasiswa dalam Menghadapi…

Akhmed Reza Fachlevi Tanggapi Isu Pencalonan Ketua KNPI Kaltim: Harap Ada Rekonsiliasi Pemuda

Wed, 27 Aug 2025 11:01

Kalimantan Timur– Isu mengenai pencalonan Ketua KNPI Kalimantan Timur mulai mencuat ke publik. Nama Anggota DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi,…

Presiden Mahasiswa Unikarta Ajak Mahasiswa Baru Lebih Kritis dan Aktif Berorganisasi

Wed, 27 Aug 2025 04:10

Kutai Kartanegara —Dalam momentum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025, Presiden Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara, Ibnu Ridho,…

Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin RPU Rp24,9 Miliar di Kutim Masuk Tahap Penyidikan

Wed, 27 Aug 2025 00:04

Kalimantan Timur -Dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU) senilai Rp24,9 miliar di Kabupaten Kutai Timur…

Rektor Unikarta Tekankan Pentingnya Karakter dan Organisasi pada PKKMB 2025

Tue, 26 Aug 2025 12:05

Kutai Kartanegara – Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) resmi menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2025–2026, Selasa (26/8/2025)….

Royalti Musik: Momentum Pembenahan, Bukan Sekadar Regulasi

Sun, 24 Aug 2025 14:54

Gerbang Nusantara memandang bahwa langkah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang mengusulkan agar izin konser hanya diberikan setelah…

Ratusan Massa Kaltim Siap Gelar Aksi Besar, Tuntut Cabut Izin PT BDAM dan Copot Pejabat Polres Kukar

Sun, 24 Aug 2025 07:17

Kutai Kartanegara — Persoalan sengketa lahan yang bermula sejak 1980 kembali memanas. Awal perkara ini disebut dimulai saat hadirnya PT…

Kaltim Sediakan Rp25 Miliar untuk Kompensasi Kesehatan, Darlis: Pasien Tidak Boleh Ditolak

Sun, 24 Aug 2025 03:36

Samarinda — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran Rp25 miliar dalam APBD Perubahan 2025. Dana ini disiapkan sebagai kompensasi kesehatan…

Dana Transfer Pusat Dipangkas, APBD Kaltim Terancam Defisit Besar

Sun, 24 Aug 2025 03:20

Samarinda -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kini menghadapi ancaman defisit besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun berjalan. Hal…

Pemprov Kaltim Pastikan UKT Mahasiswa Baru Ditanggung dalam Program Gratispol

Fri, 22 Aug 2025 22:57

Kalimantan Timur -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menegaskan komitmen dalam melaksanakan program pendidikan gratis atau Gratispol bagi mahasiswa baru di…

Berita Terbaru

Teknologi

Pendidikan

Visitor