Penulis: Pemuja Kepalsuan
Di sebuah kota kecil bernama Lampetong, pesta pelantikan sudah usai. Pemimpin baru sudah diambil sumpah, bunga-bunga ucapan selamat masih berjejer di pinggir trotoar, dan grup WhatsApp sedang sibuk update profil.
Tapi ada satu yang belum berubah: rumah jabatan.
Malam-malam, rumah itu masih terang. Serambi depan masih ramai. Bahkan suara sendal jepit khas penghuni lama masih terdengar mondar-mandir.
“Eh, itu rumah jabatan kan udah punya yang baru?” bisik seorang pedagang kopi di pinggir jalan sambil ngaduk termos.
“Iya lho. Tapi si mantan masih betah. Kayaknya dia pikir itu bonus pengabdian seumur hidup,” jawab pembeli kopi sambil ngakak kecil.
“Gue lewat tadi pagi, dia lagi nyiram tanaman. Santai banget, kayak nggak ada yang berubah. Mungkin AC-nya pas di suhu favorit dia,” timpal yang lain.
“Ya ampun. Itu rumah dinas, bukan rumah dinasti,” celetuk ibu-ibu yang baru turun dari ojek.
Sementara itu, pemimpin baru yang sah, resmi, dan dilantik hanya bisa gelar rapat darurat di aula kelurahan.
“Belum bisa masuk rumah? Lah, katanya udah dilantik?” tanya warga.
“Udah. Tapi katanya yang lama belum selesai packing. Mungkin lagi cari kardus Indomie bekas buat bungkus piala,” jawab seorang lainnya sambil mengunyah kerupuk.
Anak muda di warung sebelah bikin video sambil ketawa:
“Bro, ini kayak kamu udah diputusin tapi masih tidur di kasur mantan. Udah gitu, bantalnya dipeluk juga.”
Semua tertawa. Tapi di balik tawa itu, terselip satu kenyataan pahit: di negeri ini, ada jabatan yang berakhir, tapi rasa kepemilikan nggak ikut pensiun.
Di sebuah kota kecil bernama Lampetong, pesta pelantikan sudah usai. Pemimpin baru sudah diambil sumpah, bunga-bunga ucapan selamat masih berjejer di pinggir trotoar, dan grup WhatsApp sedang sibuk update profil.
Tapi ada satu yang belum berubah: rumah jabatan.
Malam-malam, rumah itu masih terang. Serambi depan masih ramai. Bahkan suara sendal jepit khas penghuni lama masih terdengar mondar-mandir.
“Eh, itu rumah jabatan kan udah punya yang baru?” bisik seorang pedagang kopi di pinggir jalan sambil ngaduk termos.
“Iya lho. Tapi si mantan masih betah. Kayaknya dia pikir itu bonus pengabdian seumur hidup,” jawab pembeli kopi sambil ngakak kecil.
“Gue lewat tadi pagi, dia lagi nyiram tanaman. Santai banget, kayak nggak ada yang berubah. Mungkin AC-nya pas di suhu favorit dia,” timpal yang lain.
“Ya ampun. Itu rumah dinas, bukan rumah dinasti,” celetuk ibu-ibu yang baru turun dari ojek.
Sementara itu, pemimpin baru yang sah, resmi, dan dilantik hanya bisa gelar rapat darurat di aula kelurahan.
“Belum bisa masuk rumah? Lah, katanya udah dilantik?” tanya warga.
“Udah. Tapi katanya yang lama belum selesai packing. Mungkin lagi cari kardus Indomie bekas buat bungkus piala,” jawab seorang lainnya sambil mengunyah kerupuk.
Anak muda di warung sebelah bikin video sambil ketawa:
“Bro, ini kayak kamu udah diputusin tapi masih tidur di kasur mantan. Udah gitu, bantalnya dipeluk juga.”
Semua tertawa. Tapi di balik tawa itu, terselip satu kenyataan pahit: di negeri ini, ada jabatan yang berakhir, tapi rasa kepemilikan nggak ikut pensiun.