Makeup Bukan Lagi Soal Cantik, Tapi Cara Bertahan Hidup

Sun, 29 Jun 2025 13:26:09 Dilihat 81 kali Author gerbang nusantara
makeup

Penulis: Charlene Chanata, Mahasiswa  Universitas Bina Nusantara.

Di era di mana hidup serba cepat, tekanan sosial semakin intens, dan media sosial menampilkan standar sempurna yang sulit dijangkau, makeup tidak lagi sekadar dianggap alat untuk tampil cantik. Bagi banyak orang—terutama generasi muda—makeup telah menjadi cara untuk merawat diri, membangun kepercayaan diri, bahkan untuk bertahan hidup secara emosional.

Dulu, makeup mungkin hanya diasosiasikan dengan penampilan fisik atau glamor. Tapi kini, fungsi dan maknanya telah berkembang jauh melampaui itu. Di balik tiap sapuan blush on dan garis eyeliner yang presisi, ada kisah perjuangan. Makeup kini adalah bahasa. Bahasa untuk mengatakan, “Aku mencoba.” Bahasa untuk menunjukkan bahwa meskipun dunia terasa berat, seseorang masih berusaha terlihat hidup, dan merasa layak.

Dalam budaya populer, makeup seringkali ditempatkan dalam posisi yang ambigu. Di satu sisi, ia dianggap simbol kecantikan dan daya tarik. Di sisi lain, perempuan—dan kini juga laki-laki—kerap dikritik karena dianggap “terlalu berusaha” tampil menarik. Stigma seperti “kecantikan palsu”, “berlebihan”, atau “makeup itu buat nutupin kekurangan” masih kerap dilontarkan, bahkan oleh sesama perempuan.

Namun, generasi saat ini mulai membalikkan narasi tersebut. Makeup tidak lagi sekadar alat untuk memenuhi ekspektasi sosial, tapi justru menjadi senjata untuk melawan tekanan itu sendiri. Di tengah dunia yang seringkali terasa tidak aman dan penuh penilaian, makeup menawarkan ruang aman yang bisa dikontrol.

Makeup memberikan kekuasaan atas citra diri. Ketika tubuh terasa lelah dan pikiran kacau, merias wajah bisa menjadi tindakan kecil yang memberikan rasa kendali. Ini bukan tentang berusaha terlihat sempurna, tapi tentang merawat dan menata sesuatu yang masih bisa diatur—diri sendiri.

Lebih dari itu, budaya digital juga mendorong perubahan ini. Di TikTok, YouTube, bahkan Twitter, makeup bukan lagi soal tutorial “look flawless dalam 5 menit”, melainkan soal cerita. Banyak konten kreator merias wajah sambil bercerita tentang hari buruk, trauma masa kecil, kesehatan mental, atau perjuangan hidup yang sunyi. Dandan jadi semacam sesi terapi.

 

Makeup sebagai Cara Bertahan di Hari-Hari Berat

Ada hari-hari di mana segalanya terasa berantakan. Bangun tidur udah capek, kepala penuh, dan rasanya pengen ngilang aja dari semua. Tapi anehnya, buka kaca, ngambil cushion, dan mulai tap-tap pelan di pipi bisa bikin hati sedikit lebih tenang.

Makeup di hari-hari kayak gitu bukan soal tampil cantik. Tapi soal bikin diri sendiri ngerasa “oke, gue masih bisa ngatur sesuatu.” Kadang cuma alis yang bisa diselametin. Kadang cuma lip tint seadanya. Tapi itu cukup buat bikin lo ngerasa: gue masih ada di sini.

Ada perasaan nyaman saat ngerapihin sesuatu di wajah, pas semua di luar kepala lagi berantakan. Dan itu bukan hal lebay. Banyak orang ngelakuin itu bukan karena pengen kelihatan keren, tapi karena itu satu-satunya hal yang masih bisa mereka kontrol saat semuanya terasa nggak bisa dikendalikan.

Sekarang banyak banget konten di TikTok atau Instagram yang nunjukin orang lagi dandan sambil cerita. Tentang capeknya kuliah, tentang homesick, tentang quarter life crisis. Dandan jadi tempat curhat. Tempat nenangin diri. Dan itu bukan cuma buat konten—itu kenyataan.

Lucunya, banyak yang dandan bukan buat keluar rumah. Tapi buat diri sendiri. Buat ngerasa bahwa mereka masih punya tenaga buat berusaha, walau kecil. Ada kekuatan dalam aktivitas sederhana itu. Sapuan kuas. Pilihan warna. Semua itu punya makna yang cuma diri sendiri yang tahu.

Makeup hari ini bukan lagi sekadar penampilan. Tapi pengingat kecil bahwa lo masih bisa ngelakuin sesuatu. Dan kadang, itu aja udah cukup buat bertahan satu hari lagi.

 

Makeup sebagai Ekspresi Diri dan Ruang Bebas

Di masa lalu, makeup sering dianggap sebagai penjara standar kecantikan. Sesuatu yang bikin orang harus terlihat “sempurna” demi diterima. Tapi sekarang, cara pandang itu udah mulai berubah. Makeup bukan lagi tentang menutupi, tapi tentang mengungkapkan siapa diri seseorang. Tentang nunjukin perasaan yang kadang susah dijelaskan dengan kata-kata.

Lo bisa lihat sendiri, gaya makeup sekarang makin berani, makin bebas. Ada yang tampil bold dengan eyeliner tebal, ada yang suka tampilan pucat ala sad girl aesthetic, ada juga yang milih tampil natural tapi tetep rapi. Semua itu bukan soal ikut tren, tapi tentang nunjukin perasaan dan kepribadian.

Makeup juga jadi ruang aman buat orang-orang yang ngerasa identitas mereka gak bisa diterima di dunia luar. Banyak cowok yang dulu takut dibilang “feminin” sekarang udah berani pake foundation, concealer, bahkan glitter—karena akhirnya mereka sadar: yang penting nyaman sama diri sendiri.

Gak ada aturan kaku. Lo mau tampil kayak karakter anime, kayak cewek tahun 90-an, atau cuma sekadar bikin pipi kelihatan fresh—semuanya valid. Makeup sekarang bukan alat buat nyenengin orang lain. Tapi alat buat berdamai sama diri sendiri.

 

Makeup dan Hari-Hari yang Gak Selalu Baik-Baik Aja

Ada hari-hari di mana bangun dari kasur aja rasanya berat. Muka kusut, pikiran kusut, hati apalagi. Tapi anehnya, buka laci makeup dan mulai ngolesin pelembap bisa bikin semuanya terasa sedikit lebih ringan. Kayak lo lagi ngasih sinyal ke diri sendiri: “Yuk, coba lagi.”

Makeup bukan solusi dari masalah hidup. Tapi kadang, itu cukup untuk bantu lo bertahan satu hari lagi. Dan satu hari lagi itu penting banget, terutama saat hidup rasanya kayak gak ada arah.

Yang paling keren, banyak orang sekarang udah berani bilang ini dengan jujur. Mereka share video lagi dandan sambil cerita kalau mereka capek, sedih, atau takut. Dulu hal kayak gini dianggap lemah. Sekarang? Itu bentuk keberanian. Karena yang pura-pura kuat itu udah biasa. Tapi yang jujur dan tetep berdiri meski lagi rapuh? Itu luar biasa.

 

Makeup, Bentuk Kecil dari Usaha Besar

Dandan itu bukan soal cantik. Tapi soal hadir.
Soal nunjukin bahwa meskipun hari ini gak sempurna, seseorang masih berusaha tampil—buat diri sendiri, bukan buat orang lain.

Di dunia yang sering nuntut terlalu banyak, makeup bisa jadi cara untuk tetap punya ruang. Ruang buat ngatur napas, ruang buat ngerasa berharga, ruang buat jadi versi diri yang lo butuhkan saat itu.

Jadi, kalau suatu hari lo lihat seseorang pake makeup di tengah hari yang berat—bukan berarti mereka lagi sok cantik. Bisa jadi, mereka lagi berusaha bertahan. Dan itu, gak pernah jadi hal yang sepele

Baja Juga

News Feed

Mahasiswa Didorong Hadapi Tantangan Era Society 5.0, Zulhansyah Tekankan Peran Organisasi

Thu, 28 Aug 2025 14:06

Tenggarong — Dalam rangkaian kegiatan PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBIS) Unikarta, digelar seminar bertajuk “Peran Organisasi Mahasiswa dalam Menghadapi…

Akhmed Reza Fachlevi Tanggapi Isu Pencalonan Ketua KNPI Kaltim: Harap Ada Rekonsiliasi Pemuda

Wed, 27 Aug 2025 11:01

Kalimantan Timur– Isu mengenai pencalonan Ketua KNPI Kalimantan Timur mulai mencuat ke publik. Nama Anggota DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi,…

Presiden Mahasiswa Unikarta Ajak Mahasiswa Baru Lebih Kritis dan Aktif Berorganisasi

Wed, 27 Aug 2025 04:10

Kutai Kartanegara —Dalam momentum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025, Presiden Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara, Ibnu Ridho,…

Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin RPU Rp24,9 Miliar di Kutim Masuk Tahap Penyidikan

Wed, 27 Aug 2025 00:04

Kalimantan Timur -Dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU) senilai Rp24,9 miliar di Kabupaten Kutai Timur…

Rektor Unikarta Tekankan Pentingnya Karakter dan Organisasi pada PKKMB 2025

Tue, 26 Aug 2025 12:05

Kutai Kartanegara – Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) resmi menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2025–2026, Selasa (26/8/2025)….

Royalti Musik: Momentum Pembenahan, Bukan Sekadar Regulasi

Sun, 24 Aug 2025 14:54

Gerbang Nusantara memandang bahwa langkah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang mengusulkan agar izin konser hanya diberikan setelah…

Ratusan Massa Kaltim Siap Gelar Aksi Besar, Tuntut Cabut Izin PT BDAM dan Copot Pejabat Polres Kukar

Sun, 24 Aug 2025 07:17

Kutai Kartanegara — Persoalan sengketa lahan yang bermula sejak 1980 kembali memanas. Awal perkara ini disebut dimulai saat hadirnya PT…

Kaltim Sediakan Rp25 Miliar untuk Kompensasi Kesehatan, Darlis: Pasien Tidak Boleh Ditolak

Sun, 24 Aug 2025 03:36

Samarinda — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran Rp25 miliar dalam APBD Perubahan 2025. Dana ini disiapkan sebagai kompensasi kesehatan…

Dana Transfer Pusat Dipangkas, APBD Kaltim Terancam Defisit Besar

Sun, 24 Aug 2025 03:20

Samarinda -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kini menghadapi ancaman defisit besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun berjalan. Hal…

Pemprov Kaltim Pastikan UKT Mahasiswa Baru Ditanggung dalam Program Gratispol

Fri, 22 Aug 2025 22:57

Kalimantan Timur -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menegaskan komitmen dalam melaksanakan program pendidikan gratis atau Gratispol bagi mahasiswa baru di…

Berita Terbaru

Teknologi

Pendidikan

Visitor