Penulis: Salma Anisa Afriani, Mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta
Di era digital ini, linimasa media sosial kerap menampilkan kisah sukses anak muda usia 20-an yang telah mapan secara finansial. Ada yang berhasil membangun bisnis, bekerja di perusahaan multinasional, atau menjadi influencer dengan penghasilan dua digit. Bagi sebagian orang, pencapaian tersebut menginspirasi. Namun, bagi sebagian mahasiswa yang masih harus berkutat dengan jadwal kuliah, tugas kampus, dan uang saku pas-pasan, pemandangan itu bisa memunculkan tekanan sosial yang berat.
Namun, tidak semua tenggelam dalam tekanan itu. Adan (21), salah satu mahasiswa Politteknik Negeri jakarta justru menjadikan situasi ini sebagai pemacu semangat. “Saya memang belum berpenghasilan seperti mereka, tapi saya sedang membangun fondasi. Ilmu yang saya pelajari sekarang adalah investasi jangka panjang,” ujarnya.
Jembatan Harapan di Tengah Realita
Adan bukan tidak pernah merasa tertinggal. Sebagai anak sulung dari keluarga sederhana, ia kerap membandingkan dirinya dengan teman seangkatannya yang sudah menghasilkan uang. Namun alih-alih terjebak dalam rasa iri atau minder, Adan memilih berpikir positif. Ia menyadari bahwa tiap orang memiliki garis waktu berbeda. Dengan prinsip itulah ia melangkah pasti, satu per satu, sembari menyelesaikan pendidikan di bidang jurnalistik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menyebutkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja dari kelompok usia 20–24 tahun adalah sekitar 71,22%. Artinya, sebagian besar anak muda di usia ini memang sudah bekerja. Tapi data ini tidak menceritakan bahwa sebagian lainnya masih berada dalam proses pendidikan, menyiapkan diri untuk terjun ke dunia kerja dengan bekal kompetensi yang lebih kuat.
Tekanan Kultural: Sukses Harus Cepat
Budaya instan dan glamor yang diperkuat media sosial membuat keberhasilan terlihat seperti sesuatu yang bisa dicapai seketika. Padahal, banyak cerita kesuksesan yang tak terungkap adalah hasil dari proses panjang, jatuh bangun, bahkan kegagalan berulang. Adan mengaku kerap merasa terintimidasi, terutama ketika melihat unggahan teman sebaya yang memamerkan pencapaian finansial.
Namun ia melatih dirinya untuk fokus pada proses. Salah satu caranya adalah dengan memperkaya perspektif melalui literasi dan diskusi. Ia aktif dalam organisasi kampus, mengikuti pelatihan menulis, dan menjadi kontributor konten untuk media kampus. “Mungkin saya belum punya penghasilan tetap, tapi saya sedang membangun portofolio yang nantinya akan membuka jalan karier saya,” katanya.
Sikap Mental Lebih Penting dari Segalanya
Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa sikap positif berkorelasi erat dengan ketahanan dalam menghadapi tekanan hidup, terutama di kalangan mahasiswa. Artinya, mahasiswa seperti Adan yang mampu menjaga pikiran tetap jernih dan positif, memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara mental dan akademik.
Berpikir positif bukan berarti menutup mata dari kenyataan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk keberanian untuk tetap berproses meski situasi belum ideal. Dalam buku Grit karya Angela Duckworth, ditegaskan bahwa ketekunan dan passion adalah dua hal yang lebih menentukan kesuksesan jangka panjang ketimbang bakat atau keberuntungan semata.
Optimisme Sebagai Modal Awal
Apa yang dilakukan Adan adalah bentuk perlawanan terhadap narasi “sukses cepat” yang menekan. Ia memilih jalur yang lebih lambat, tapi pasti. Jalur yang penuh pembelajaran, jatuh bangun, dan refleksi. Dalam dunia yang serba instan ini, berpikir positif bukan sekadar pilihan sikap, tetapi strategi bertahan hidup.
Kita perlu lebih banyak memberi ruang bagi narasi perjuangan seperti Adan ini, bahwa tidak apa-apa untuk tidak langsung sukses di usia muda. Yang penting adalah tetap bertumbuh, terus belajar, dan percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.