Penulis Oleh: Ocxynuel Panjaitan, Alumni Universitas Mulawarman Hubungan Internasional
Museum bukan sekadar bangunan tua dengan rak kaca berisi benda bersejarah. Museum adalah ruang hidup di mana generasi hari ini bercermin pada masa lalu, lalu melangkah lebih bijak ke masa depan. Museum Mulawarman di Tenggarong, Kutai Kartanegara, seharusnya berdiri kokoh sebagai pusat kebanggaan sejarah Kesultanan Kutai, tetapi nyatanya kini masih tertinggal dalam balutan cara-cara lama.
Berulang kali saya mendengar keluhan sederhana namun berarti dari para pelajar di Tenggarong: “Museum Mulawarman itu keren, tapi cepat bosan.” Kalimat ini jujur, sekaligus tamparan. Anak-anak zaman sekarang lahir di era digital, tumbuh dengan ponsel pintar dan visual bergerak. Menyuruh mereka menatap benda di etalase kaca tanpa narasi interaktif sama saja memisahkan mereka dari sejarahnya sendiri.
Modernisasi museum bukan sekadar wacana gagah-gagahan. Ini soal bagaimana warisan sejarah kita bisa tetap melekat di hati generasi muda. Sejumlah museum di kota lain sudah berbenah — memasang layar sentuh, membuat tur virtual, menghadirkan audio guide multi bahasa. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan. Sejarah tidak lagi jadi tumpukan benda mati, tetapi menjadi cerita hidup yang bisa mereka pahami dengan cara yang mereka suka.
Kini masyarakat Tenggarong menyimpan satu harapan besar: terpilihnya Bupati baru Kukar harus menjadi pintu perubahan nyata bagi Museum Mulawarman. Harapan ini bukan mimpi kosong. Museum Mulawarman punya modal sejarah yang kuat, koleksi artefak yang langka, dan bangunan keraton megah yang masih berdiri anggun. Tinggal bagaimana semua itu dikemas dengan sentuhan teknologi dan cara penyajian modern.Transformasi Menuju Museum Modern.
Dalam usulan modernisasi, saya dan banyak warga bermimpi Museum Mulawarman dilengkapi berbagai fasilitas baru, di antaranya:
• Digital Guide & Audio Tour: Pengunjung bisa mengakses informasi koleksi melalui aplikasi pemandu berbasis QR code.
• Interactive Display: Layar sentuh dan hologram untuk menjelaskan sejarah Kerajaan Kutai dan silsilah raja secara visual.
• Ruang Pameran Tematik: Penataan ulang ruangan agar koleksi tersaji lebih naratif, sesuai periode sejarah dan tema.
• Virtual Reality (VR) Corner: Pengunjung dapat merasakan pengalaman virtual menjelajahi istana Kutai di masa lampau.
• Pusat Edukasi dan Workshop: Ruang edukasi interaktif dengan program belajar sejarah, diskusi, dan pelatihan kreatif.
Langkah-langkah ini bisa dipadukan dengan perbaikan tata pameran, pelatihan SDM pengelola museum agar paham teknologi, serta membuka ruang gotong royong dengan komunitas sejarah dan sekolah. Kita tidak bisa berharap pengunjung datang begitu saja tanpa ada perbaikan yang nyata.
Museum Mulawarman butuh lebih dari sekadar lampu baru. Ia butuh visi baru: menjadikannya bukan hanya ruang pajangan artefak, tetapi pusat belajar sejarah yang hidup, interaktif, dan membanggakan.
Bupati baru, harapan baru. Saatnya kita bersama-sama menghidupkan kembali Museum Mulawarman, agar sejarah Kutai Kartanegara tidak hanya terjaga di ruang kaca, tetapi juga hidup di hati anak cucu kita kelak.