Penulis: Siti Fauziyah Handayani, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.
Istilah broken home sudah begitu melekat dalam masyarakat sebagai lebel bagi anak-anak yang orang tuanya bercerai. Kata “broken” diartikan kerusakan, kehancuran, dan luka yang mendalam. Namun, benarkah setiap keluarga yang mengalami perceraian pasti mengalami kehancuran secara emosional? Ataukah kita hanya terlalu cepat menyimpulkan tanpa benar-benar memahami konteks di balik perpisahan itu?.
Perceraian memang bukan hal yang mudah, terlebih lagi bagi anak. Namun, menyederhanakan dampaknya dengan label “broken home” justru bisa memperburuk kondisi psikologis anak. Padahal, tak semua perceraian berujung pada trauma. Justru dalam banyak kasus, perceraian menjadi jalan bagi keluarga untuk terbebas dari konflik yang lebih besar. Hidup dalam rumah yang penuh pertengkaran bisa jauh lebih besar. Hidup dalam rumah yang penuh pertengkaran bisa jauh lebih melukai dibandingkan hidup bersama dua orang tua yang telah sepakat untuk berpisah, namun tetap saling menghormati dan bekerja sama demi anak.
Psikologi klinis Dr.Seto Mulyadi atau Kak Seto pernah mengatakan “Yang dibutuhkan anak adalah kasih saying dan perhatian dari kedua orang tuanya, bukan sekedar keutuhan rumah tangga secara formal.”
Hal ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalan jurnal Child Development (Amato, 200), yang menyimpulkan bahwa dampak perceraian terhadap anak tidak ditentukan oleh perceraian itu sendiri, melainkan oleh bagaimana kualitas hubungan antara orang tua dengan anak setelah perceraian. Dengan kata lain, anak bisa tetap tumbuh secara sehat dan bahagia selama ia merasa dicintai, didengar, dan dihargai baik oleh kedua orang tuanya.
Contoh nyata dari hal ini dapat kita lihat dari kisah Leya Prinscy, anak dari pasangan public figure Fery Maryadi dan Risma Nilawati. Dalam sebuah wawancara, Leya mengungkapkan perasaannya dengan lugas dan dewasa.
“Biar pun orang tua aku pisah, tapi mereka masih berkomunikasi baik. Aku nggak ngerasa broken home, karena aku tetap dapet kasih saying dari dua-duanya.”
Pernyataan Leya membalik stigma. Ia tidak melihat perceraian sebagai kehancuran, melainkan sebagai situasi yang bisa dijalani dengan penuh kasih sayang dan kedewasaan. Ia tetap merasa dicintai,dihargai,dan di dukung oleh kedua orang tuanya, meski mereka tak lagi tinggal bersama. Kasih sayang dan perhatian tidak terhapus hanya karena status pernikahan berubah.
Hal serupa juga terlihat dari sosok Gempi, anak dari pasangan Gading Martin dan Gisella Anastasia. Meski mereka telah bercerai sajak Gempi masih kecil, hubungan antara keduanya tetap terjalin dengan baik. Mereka hadir di banyak momen penting kehidupan Gempi dan bahkan sering berlibur bersama demi kenyamanan sang anak. Gempi tumbuh ceria, cerdas, dan penuh percaya diri jauh dari gambaran “broken” yang seringkali dilekatkan pada anak korban perceraian.
Dalam buku The Truth About Children dan Divorceoleh Robert E. Emery, seorang professor psikologi dari Universitas of Virginia, dijelaskan bahwa
“ Children do not need perfect families, they meed peace, stability, and love.” (anak tidak butuh keluarga yang sempurna, mereka butuh kedamaian, kestabilan, dan kasih sayang.
Ini adalah penegasan bahwa perceraian bukan lah ke kegagalan mutlak. Justru, mempertahankan pernikahan yang penuh konflik demi alasan “keutuhan keluarga” bisa menjadi keputusan yang lebih merusak bagi anak.
Kita harus mulai menyadari bahwa lebel broken home sering kali lebih menyakitkan daripada peristiwa perceraian itu sendiri. Istilah ini menyederhanakan pengalaman hidup seseorang hanya karena status sorang tua, tanpa melihat dinamika relasi yang terjadi. Banyak keluarga yang “utuh” secara struktur tapi justru penuh tekanan, kekerasan verbal, atau pengabaian emosional.
Sebaliknya, banyak pula keluarga pasca cerai yang berfungsi dengan sangat baik. Komunikasi yang sehat antara orang tua, kedewasaan dalam menyikapi konflik, serta focus pada kesejahteraan anak adalah kunci dari rumah yang “utuh” meskipun tidak satu atap.
Masyarakat perlu berhenti mengasihi atau memberi stigma negatif kepada anak-anak dari keluarga bercerai. Yang mereka butuhkan bukan simpati, tetapi pengakuan bahwa mereka pun bia bahagia, tumbuh sehat, dan sukses seperti anak-anak lainnya. Seperti Leya dan gempi, mereka adalah bukti hidup bahwa kasih saying dan komitmen aorang tua bisa tetap utuh, meskipun hubungan pernikahan tidak lagi berjalan.