Penulis: Pemuja Kepalsuan
Baru saja dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Lampetong, Sang Raja Dapil yang dulu dielu-elukan sebagai “Putra Murni Tanah Leluhur”, mengumumkan sebuah kabar gembira:
“Rakyatku tercinta, untuk merayakan kemenangan kita, akan kuadakan syukuran besar-besaran!”
Rakyat pun bersorak di alun-alun. Mereka membayangkan pesta di halaman istana, nasi kebuli se-keranjang, tarian kampung, dan pentas wayang. Tapi…
syukuran itu ternyata diadakan di sebuah pulau jauh bernama Sulabesi.
Pulau tempat kelahiran sang raja.
Bukan di Lampetong.
Bukan di tanah yang memilihnya.
Dengan perahu mewah dan iring-iringan kerabat, Sang Raja pun berlayar ke Sulabesi. Di sana, pesta meriah digelar:
Gapura megah, tenda raksasa, MC tiga bahasa, dan panggung hiburan dari pagi sampai Isya.
Sementara itu, rakyat Lampetong menonton dari layar ponsel dan sinyal terseok-seok.
Seorang warga berbisik,
“Lho, ini syukuran jadi raja Lampetong, tapi pestanya kok di kampung seberang?”
Warga lain menimpali,
“Katanya dulu putra daerah. Sekarang malah ngunduh mantu di luar wilayah.”
Raja pun menyampaikan pidato di pesta mewah itu:
“Ini sebagai bentuk syukur. Walau bukan di tanah pemilihan, tapi tanah kelahiran tetap dihormati.”
“Tenang… ini semua pakai dana pribadi.”
Burung camar yang terbang di atas pesta pun berkomentar lirih,
“Rakyat memilihnya di Lampetong, tapi rejekinya tumpah ruah di tanah yang lain.”
Dan begitulah syukuran Raja Lampetong yang tidak pernah sampai ke telinga rakyat yang memilihnya — kecuali dalam bentuk postingan Instagram