Penulis: Allysia Dwisyahputri, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Kita semua pasti pernah merasa sudah berbuat baik, namun dibalas dengan sikap dingin, cuek, atau bahkan sinis. Di dunia nyata maupun dunia maya, tak sedikit orang yang berpura-pura peduli Padahal hanya ingin tahu, bukan benar-benar ingin membantu. Tapi apakah itu berarti kita harus berhenti berdetak dengan baik?
Di tengah lingkungan sosial yang semakin kompleks dan penuh dinamika, terutama dengan kehadiran media sosial, hubungan positif menjadi sesuatu yang sering diromantisasi. Menjadi pribadi yang baik diasosiasikan dengan kasih sayang tanpa batas siapa, kesediaan hadir untuk pun, dan kesabaran untuk memahami semuanya.
Padahal tidak semua orang yang bersikap manis itu benar-benar tulus, dan tidak semua orang diam itu tidak peduli. Tak jarang, interaksi justru digunakan sebagai kedok untuk mencari celah, menyelidik kehidupan orang lain, atau bahkan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingannya sendiri.
Banyak orang merasa terbebani oleh ekspektasi untuk selalu menjadi “orang baik” di lingkungan. Selalu menyapa lebih dulu, hadir saat dibutuhkan, bahkan kepada mereka yang terang-terangan tak menyukainya.
Terlebih lagi jika tahu mereka pernah membicarakan kita di belakang atau diam-diam menunjukkan sikap tidak nyaman atas keberadaan kita. Namun karena ingin menjaga citra sebagai orang yang positif dan menyenangkan, kami tetap merasa baik-baik saja. Lama-lama, rasa lelah itu menumpuk.
Namun, pengiklan yang baik seharusnya tidak membebani. Menjadi baik bukan berarti harus tampil sempurna dan menyenangkan di mata semua orang. Kita bisa tetap memberi isyarat baik tanpa memaksa diri menjadi pribadi yang selalu hangat, selalu responsif, dan selalu hadir untuk semua. Karena ketika kebaikan menjadi tuntutan yang menekan, rasa lelah akan mudah datang, dan luka akan mudah terbentuk.
Ada perasaan asing ketika tahu seseorang tidak menyukai kita, padahal kita merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Namun yang perlu diingat, bahwa tidak semua ketidaksukaan berasal dari kesalahan. Bisa jadi karena perbedaan karakter, nilai, atau bahkan karena keberadaan kita saja sudah cukup membuat orang lain tak nyaman dan itu bukan tanggung jawab kita.
Ada kalanya pula, kita menyadari bahwa sikap baik kita tidak akan mengubah pandangan orang terhadap kita. Kebaikan tidak harus ditukar dengan penerimaan, pujian, atau perhatian.
Cukup jadi sikap kita sendiri, bukan strategi agar disukai.
Menyikapinya dengan tetap tenang, ramah sewajarnya, dan tidak membalas dengan energi negatif, adalah bentuk kendali diri yang sehat. Itu juga bagian dari hubungan yang positif, tidak reaktif, tapi reflektif.
Hubungan Membangun positif bukanlah soal menyenangkan semua orang. Ini soal bagaimana kita menjaga sikap tanpa kehilangan arah. Tetap baik, tanpa berharap semua orang akan membalas dengan hal yang sama. Karena pada akhirnya, kalimat yang baik adalah tentang siapa kita, bukan tentang siapa mereka.