Trauma dan Transformasi: Meninjau Kembali Kerusuhan Mei 1998 di Indonesia

Thu, 26 Jun 2025 11:31:39 Dilihat 139 kali Author gerbang nusantara
Reformasi-1998-500x309

Penulis: Michelle Audelia Mahasiswa Binus University

 

Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu babak kelam dalam sejarah modern Indonesia yang meninggalkan luka mendalam bagi bangsa ini. Peristiwa ini tidak hanya menandai runtuhnya kekuasaan Orde Baru yang telah berlangsung 32 tahun di bawah Presiden Soeharto, tetapi juga menjadi manifestasi dari trauma sosial dan politik yang kompleks, serta titik awal bagi transformasi menuju era Reformasi.

Kerusuhan ini berakar dari krisis moneter Asia yang melanda Indonesia sejak tahun 1997-1998, menyebabkan gejolak ekonomi dan hilangnya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Dinamika sosial dan politik yang memanas mencapai puncaknya pada pertengahan Mei 1998. Pemicu langsung kerusuhan adalah tragedi penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998. Kejadian ini memicu gelombang demonstrasi yang kemudian meluas menjadi kerusuhan massal di berbagai kota, termasuk Jakarta dan Solo.

Kekerasan yang terjadi selama Kerusuhan Mei 1998 sangat brutal dan multidimensional. Selain penjarahan dan pembakaran fasilitas umum serta properti, kerusuhan ini juga diwarnai dengan aksi kekerasan yang berbau rasial, di mana etnis Tionghoa menjadi sasaran utama. Salah satu aspek paling menyedihkan dan traumatis dari peristiwa ini adalah laporan mengenai tindak kekerasan seksual massal, khususnya terhadap perempuan dari etnis Tionghoa. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) melaporkan adanya 92 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual selama periode kerusuhan, yang salah satunya adalah kisah Lina, seorang gadis berusia 14 tahun yang menjadi korban pemerkosaan beramai-ramai saat dalam perjalanan pulang sekolah, serta Dini (29 tahun) yang diculik dan diperkosa setelah meninggalkan kantornya. Kekerasan-kekerasan ini menyisakan trauma berkepanjangan bagi para korban dan keluarga, serta menjadi noda hitam dalam sejarah kemanusiaan bangsa.

Meskipun menyisakan trauma mendalam, Kerusuhan Mei 1998 juga menjadi katalisator bagi perubahan besar. Tekanan publik dan mahasiswa yang masif, ditambah dengan krisis kepercayaan terhadap pemerintah, memaksa Presiden Soeharto yang saat itu sedang berada di Kairo, Mesir, untuk kembali ke tanah air dan akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998. Momen ini secara resmi mengakhiri era Orde Baru dan membuka gerbang menuju era Reformasi, sebuah periode di mana Indonesia memulai upaya untuk membangun sistem politik yang lebih demokratis, transparan, dan akuntabel.

Dengan meninjau kembali Kerusuhan Mei 1998, kita tidak hanya mengenang tragedi dan trauma yang ditimbulkannya, tetapi juga memahami bahwa peristiwa tersebut adalah bagian integral dari perjalanan bangsa menuju transformasi. Pengalaman pahit ini menjadi

 

pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga persatuan, menghormati hak asasi manusia, dan membangun masyarakat yang adil dan beradab. Memori kolektif akan kerusuhan ini harus terus dijaga agar sejarah kelam tidak terulang kembali, dan agar nilai-nilai demokrasi serta toleransi dapat terus tumbuh dan berkembang di Indonesia.

 

Baja Juga

News Feed

Mahasiswa Didorong Hadapi Tantangan Era Society 5.0, Zulhansyah Tekankan Peran Organisasi

Thu, 28 Aug 2025 14:06

Tenggarong — Dalam rangkaian kegiatan PKKMB Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBIS) Unikarta, digelar seminar bertajuk “Peran Organisasi Mahasiswa dalam Menghadapi…

Akhmed Reza Fachlevi Tanggapi Isu Pencalonan Ketua KNPI Kaltim: Harap Ada Rekonsiliasi Pemuda

Wed, 27 Aug 2025 11:01

Kalimantan Timur– Isu mengenai pencalonan Ketua KNPI Kalimantan Timur mulai mencuat ke publik. Nama Anggota DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi,…

Presiden Mahasiswa Unikarta Ajak Mahasiswa Baru Lebih Kritis dan Aktif Berorganisasi

Wed, 27 Aug 2025 04:10

Kutai Kartanegara —Dalam momentum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025, Presiden Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara, Ibnu Ridho,…

Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin RPU Rp24,9 Miliar di Kutim Masuk Tahap Penyidikan

Wed, 27 Aug 2025 00:04

Kalimantan Timur -Dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU) senilai Rp24,9 miliar di Kabupaten Kutai Timur…

Rektor Unikarta Tekankan Pentingnya Karakter dan Organisasi pada PKKMB 2025

Tue, 26 Aug 2025 12:05

Kutai Kartanegara – Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) resmi menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2025–2026, Selasa (26/8/2025)….

Royalti Musik: Momentum Pembenahan, Bukan Sekadar Regulasi

Sun, 24 Aug 2025 14:54

Gerbang Nusantara memandang bahwa langkah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang mengusulkan agar izin konser hanya diberikan setelah…

Ratusan Massa Kaltim Siap Gelar Aksi Besar, Tuntut Cabut Izin PT BDAM dan Copot Pejabat Polres Kukar

Sun, 24 Aug 2025 07:17

Kutai Kartanegara — Persoalan sengketa lahan yang bermula sejak 1980 kembali memanas. Awal perkara ini disebut dimulai saat hadirnya PT…

Kaltim Sediakan Rp25 Miliar untuk Kompensasi Kesehatan, Darlis: Pasien Tidak Boleh Ditolak

Sun, 24 Aug 2025 03:36

Samarinda — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran Rp25 miliar dalam APBD Perubahan 2025. Dana ini disiapkan sebagai kompensasi kesehatan…

Dana Transfer Pusat Dipangkas, APBD Kaltim Terancam Defisit Besar

Sun, 24 Aug 2025 03:20

Samarinda -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kini menghadapi ancaman defisit besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun berjalan. Hal…

Pemprov Kaltim Pastikan UKT Mahasiswa Baru Ditanggung dalam Program Gratispol

Fri, 22 Aug 2025 22:57

Kalimantan Timur -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menegaskan komitmen dalam melaksanakan program pendidikan gratis atau Gratispol bagi mahasiswa baru di…

Berita Terbaru

Teknologi

Pendidikan

Visitor