Samarinda – Kehadiran militer dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Mulawarman (Unmul) tahun 2025 kembali menuai kritik.
Kali ini, kritik datang dari Veronica Febby Ola Deo, mantan Wakil Presiden BEM KM Unmul, yang menyebut keterlibatan militer bukan hal baru dan pernah diprotes oleh kepengurusan mahasiswa sebelumnya.
Dalam wawancara yang dilakukan gerbangnusantaranews.id pada Kamis (7/8/2025), Veronica menyampaikan bahwa materi bertema bela negara dan wawasan kebangsaan yang disampaikan oleh militer selalu muncul dalam setiap pelaksanaan PKKMB, Ia mengaku, di masa kepengurusannya pun sempat terjadi penolakan.
“Jadi materi yang dibawakan setiap tahun PKKMB itu ada terkait bela negara dan wawasan kebangsaan. Pernah di kepengurusanku kita protes, kenapa harus militer? Jawabannya karena korelasi dengan materi. Padahal menurut kami, Unmul tidak kekurangan akademisi untuk membahas soal ini. Tidak harus dan wajib dari militer,” ujarnya.
Veronica mengungkap bahwa saat itu dirinya bahkan sempat menarik diri dari kepanitiaan karena kecewa dengan hasil audiensi yang tidak membuahkan perubahan.
Namun, setelah konsolidasi besar antarorganisasi, keputusan diambil untuk tetap terlibat demi menjaga koordinasi lembaga.
“Di kepengurusan saya sempat menarik diri dari kepanitiaan karena hasil audiensi yang tidak sesuai harapan. Namun karena pertimbangan dan konsolidasi besar, akhirnya kami tetap bertahan agar alur koordinasi antara lembaga bisa berjalan dengan maksimal,” terangnya.
Menurutnya, kampus tidak melakukan evaluasi yang semestinya atas kritik mahasiswa yang sudah pernah disuarakan sejak beberapa tahun lalu.
“Entah hubungan apa yang dijalin Unmul sehingga tidak mengevaluasi hal tersebut. Dulu pernah terjadi walk out dari beberapa fakultas dengan kasus yang sama. Dan kasus itu terulang lagi di tahun ini. Bahkan di tengah gejolak, Unmul masih dengan berani mengundang. Bahkan duet bak mesra di atas panggung bersama Rektor,” ungkapnya.
Veronica juga menyinggung minimnya suara dari kalangan dosen terhadap isu ini. Padahal, menurutnya, kegiatan sebesar PKKMB sudah pasti diketahui oleh banyak dosen di lingkungan kampus.
“Jelas diketahui dosen. Ini kan salah satu agenda besar di Unmul. Dosen pasti tahu. Tapi coba lihat, hanya beberapa dosen yang berani bersuara.”
Seruan untuk Evaluasi PKKMB
Lebih jauh, Veronica menekankan pentingnya mengembalikan esensi PKKMB sebagai ajang pengenalan dunia kampus yang membangun semangat kemahasiswaan, bukan sekadar seremoni formal yang sarat simbol kekuasaan.
“Unmul seharusnya memberikan ruang lebih luas kepada Ormawa dalam pengenalan dunia kampus kepada mahasiswa baru, bukan terfokus pada agenda seremoni apalagi mempertontonkan pemateri dari militer dengan seragam lengkapnya,” tegasnya.
“Ada begitu banyak hal yang seharusnya diperkenalkan oleh Unmul, mulai dari pencapaian kampus, organisasi, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan yang paling penting semangat menjadi mahasiswa yang harus dibangun.”
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kampus terkait kritik yang kembali mencuat atas pelaksanaan PKKMB dan keterlibatan militer di dalamnya.