Kutai Kartanegara – Dalam sejarah perjuangan lokal melawan penjajahan, nama Panglima Awang Long terus dikenang sebagai simbol keberanian dan keteguhan mempertahankan martabat Kesultanan Kutai Kartanegara.
Berikut ulasan perjalanan hidup dan tindakan heroiknya:
Latar Belakang dan Penugasan
Awang Long, yang memiliki gelar Panglima Senopati Ario Awang Long, dipercaya memimpin perang oleh Sultan Adji Muhammad Salehuddin sebagai Panglima Sepangan Raja sekaligus Menteri Pertahanan Kesultanan Kutai Kartanegara. Ia dikenal sebagai sosok pemberani, jujur, dan berkarakter tegar.
Pertempuran Tombak Maris: Awal Konflik
Pada tahun 1844, Inggris mengirim ekspedisi pimpinan James Erskine Murray tanpa izin melalui Sungai Mahakam untuk melakukan perdagangan dan benteng pertahanan. Setelah peringatan Sultan diabaikan, Inggris melancarkan serangan ke Tenggarong. Awang Long memimpin pasukan Sepangan Raja untuk melawan dengan gigih hingga musuh gentar dan mundur. Pertempuran berlangsung sengit selama dua hari, dari 15–16 Februari 1844, dikenal sebagai Pertempuran Tombak Maris.
Kesalahan Serangan terhadap Kapal Belgia
Dalam pengejaran, pasukan Kutai menyerang sebuah kapal yang mereka kira milik Inggris. Namun ternyata kapal tersebut milik perusahaan dagang Belgia. Akibatnya, awak kapal Belgia selamat melarikan diri dan melapor ke Belanda, memicu balasan keras.
Serangan Balasan Belanda & Gugurnya Awang Long
Balasan datang dalam bentuk armada militer Belanda yang dipimpin Letnan Laut T’Hooft. Awang Long menolak menyerah, dan pertempuran keras pun tak terhindarkan. Selama pertempuran, benteng runtuh dan menghantam dirinya, menyebabkan gugurnya sang panglima dalam perjuangan terakhirnya.
Debat Sejarah: Usia & Tahun Kelahiran
Terdapat perbedaan versi tentang tahun kelahiran Awang Long:
Beberapa sumber menyebut 28 September 1771, sehingga ia berusia 73 pada tahun gugurnya (12 April 1844).
Versi lain menyatakan lahir 28 September 1804, mengindikasikan usia sekitar 40 saat gugur lebih masuk akal secara fisik sebagai panglima.
Perdebatan ini terus menjadi kajian historis yang perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lebih lanjut.
Warisan dan Peringatan
Jasanya terus dikenang hingga kini. Beberapa bentuk penghormatan antara lain:
Pemberian nama Yonif 611/Awang Long pada batalion infanteri.
Nama jalan di sejumlah kota Kaltim seperti Tenggarong, Samarinda, Sendawar, dan Bontang.
Meski makam yang diklaim Aziz sebagai makam Awang Long hanyalah simbolik, pengingat heroiknya terus hidup dalam budaya dan identitas masyarakat Kaltim.
Kesimpulan
Panglima Awang Long dikenang sebagai panglima lokal yang berani dan setia. Dari pertempuran Tombak Maris hingga pengorbanannya di medan laga melawan Belanda, kisahnya tetap menjadi bagian penting narasi perjuangan regional. Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai data historis seperti tahun kelahirannya, semangat pengabdian dan keberaniannya tak tergoyahkan dalam ingatan kolektif masyarakat Kutai dan Kalimantan Timur.
Sumber Utama:
Wikipedia Bahasa Indonesia – Awang Long, tokoh legenda Panglima Kutai
Bontang Post – Gugurnya Awang Long di Benteng Kutai, deskripsi pertempuran dan sumber riwayat
Kaltim Kece – Kedudukan dan kisah Awang Long dalam konteks sejarah lokal di Kota Bangun