Kutai Kartanegara merupakan salah satu kerajaan besar di Kalimantan Timur yang memiliki perjalanan panjang, mulai dari masa kejayaan kerajaan hingga masa kolonial Belanda. Perlawanan rakyat Kutai terhadap penjajahan menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Awal Masuknya Belanda ke Kutai
Belanda mulai masuk ke wilayah Kutai pada abad ke-19 melalui jalur perdagangan. Kutai yang saat itu kaya sumber daya alam, terutama hasil bumi dan batu bara, menjadi incaran kolonial. Belanda menjalin perjanjian politik dengan pihak kerajaan untuk memperoleh pengaruh dan keuntungan.
Namun, seiring berjalannya waktu, campur tangan Belanda semakin mendalam hingga membatasi kedaulatan Kesultanan Kutai Kartanegara. Pajak, monopoli perdagangan, hingga intervensi dalam urusan internal kerajaan membuat rakyat merasa terjajah.
Perlawanan Awang Long
Salah satu tokoh yang paling dikenang dalam sejarah perjuangan Kutai adalah Panglima Awang Long. Pada awal abad ke-19, ia memimpin perlawanan rakyat Kutai melawan upaya Belanda menguasai daerah tersebut.
Perlawanan ini terjadi di wilayah Samarinda Seberang.
Awang Long dan pasukannya melakukan serangan terhadap garnisun Belanda.
Meski akhirnya gugur, perlawanan heroik ini membangkitkan semangat rakyat Kutai untuk tidak tunduk sepenuhnya pada kolonial.
Nama Awang Long kemudian menjadi simbol keberanian dan pengorbanan bagi masyarakat Kutai.
Masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850–1899)
Pada masa pemerintahan Aji Muhammad Sulaiman, Belanda semakin memperkuat pengaruhnya di Kutai.
Sultan masih berupaya menjaga kedaulatan, namun di sisi lain, ia harus menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial.
Tahun 1844, Belanda mulai menguasai pertambangan batu bara di Kutai melalui kontrak dan konsesi.
Sejak itu, dominasi ekonomi Belanda di Kutai makin kuat.
Meski begitu, Sultan tetap menjadi figur penting yang menyeimbangkan kepentingan rakyat dan tekanan kolonial.
Kutai Menjadi Daerah Swapraja
Memasuki abad ke-20, posisi Kesultanan Kutai secara politik semakin terbatas. Belanda mengatur wilayah Kutai sebagai daerah Swapraja, yaitu kerajaan lokal yang masih diakui namun berada di bawah kendali penuh pemerintah kolonial.
Kesultanan hanya berfungsi mengurus adat dan budaya.
Sementara urusan politik, ekonomi, dan keamanan berada dalam pengawasan Belanda.
Warisan Perjuangan
Meskipun pada akhirnya Kesultanan Kutai tidak mampu sepenuhnya mengusir kolonial Belanda, perlawanan rakyat Kutai menjadi bagian penting dalam sejarah nasional. Perjuangan Awang Long dan para pejuang Kutai menunjukkan bahwa semangat menolak penjajahan telah tumbuh kuat di tanah Borneo sebelum Indonesia merdeka.
Kini, semangat tersebut diwariskan melalui tradisi budaya, monumen perjuangan, serta semangat masyarakat Kutai Kartanegara dalam membangun daerah.